TALUK KUANTAN -- Malam kedua kegiatan praktikum Budaya Melayu mahasiswa semester IV Unilak Pekanbaru di Desa Pangalian Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, Sabtu 22 April 2017 diisi dengan penampilan randai bungo tanjung dari group randai ibu ibu pkk Desa Panggalian.

Group randai yang baru dibentuk beberapa hari yang lalu ini menggarap cerita berjudul Kawin Sauma Godang atau kawin Sajurai. Kawin Sajurai adalah kawin sesuka yang dilarang oleh aturan adat kenegerian Kotorajo. Cerita ini sengaja digarap untuk memberikan pesan pesan moril kepada anak.muda di daerah tersebut agar tidak melakukan pacaran apalagi kawan sesuku

Menurut adat di kenegerian kotorajo, ada empat suku diantaranya Suku Melayu, Tigo Kampung, Limo Kampung, Suku Cenin.

Sedangkan jurai, ada empat yakni Katik, Panggulu, Menti dan Dubalang, setiap jurai memiliki empat suku, jadi yang tidak boleh nikah tersebut adalah Sajurai, Kawin Sajurai ini tidak boleh menurut adat, Kalau terjadi kawin sajurai akan disisihkan, dan dideda satu ekor Sapi putih dan bahkan diusir dari kampung dan tidak akan diurus oleh mimik mamak lagi.

Jadi cerita ini segaja digarap untuk memberikan peringatan dan nasehat kepada generasi muda setempat agar bisa menjaga diri dan tidak berpacaran dengan satu Rumah Gudang atau Sajurai, apalagi sampai kawin, karena hal ini dilarang oleh adat di kenegerian kota rajo.

Cerita ini diangkat karena  melihat pergaulan bebas saat ini. Dimana hal ini menjadi ke khawatir an masyarakat setempat, hal yang dilarang adat bisa di langgar,  apabila tidak di ingat kepada generasi muda. Untuk itu.melalui cerita randai dengan judul Kawin Sajurai ini bisa dihidari.

"Jadi melalui cerita randai ini bisa menyampaikan pesan pesan moril dan nasehat kepada anak muda di daerah ini agar taat dan patut dengan aturan adat, dan hukum adat tetap berlaku di daerah ini dan hilang ditelan zaman," kata salah seorang penduduk setempat.**(az)