BATAM -- Gaungriau.com -- Pada era globalisasi dan digital seperti saat ini, setiap keluarga memiliki banyak tantangan. Ancaman pornografi, eksploitasi, trafficking, hingga kekerasan fisik, verbal dan seksual dapat mengintai setiap waktu. Maka harus dihindari dengan membangun benteng ketahanan keluarga yang kuat.

“Ketahanan keluarga yang kuat dapat dimulai dari membangun ketahanan diri anak sejak dini melalui peran pengasuhan anak yang seimbang dari kedua orang tua dan lingkungan,” ucap Wakil Ketua DPD RI Darmayanti Lubis saat kunjungan kerja ke Batuaji, Kepulauan Riau, Selasa 6 Februari 2018.

Ia menilai di Indonesia permasalahan keluarga dan anak memiliki kompleksitas tinggi. “Hingga saat ini belum terselesaikan secara menyeluruh dan komprehensif,” ujar Darmayanti.

Darmayanti membeberkan permasalahan perempuan dan anak dibidang sosial seperti perdagangan perempuan, perempuan yang dijadikan sebagai pengedar Narkoba, perempuan sebagai pekerja seks komersial masih terjadi.

Tak hanya itu, permasalahan dibidang kesehatan tak kalah mengkhawatirkan misalnya gizi buruk pada perempuan masa kehamilan, gizi buruk pada anak, perempuan dan anak yang terkena penularan HIV/AIDS dari suami/ayah. “Di berbagi sektor ini lah terjadi ketimpangan pada perempuan dan anak,” ujar Darmayanti.

Selain itu, berdasarkan hasil riset menemukan sebagian kasus anak berawal dari ketidakharmonisan keluarga baik anak sebagai korban maupun pelaku. Tak hanya itu kerapuhan dan malapetaka tengah mengancam keluarga Indonesia.

“Kasus kekerasan dalam rumah tangga meningkat secara drastis. Ketidakharmonisan rumah tangga sudah menjadi berita sehari-hari dan bahkan perceraian seringkali tak bisa dihindari,” kata senator asal Sumatera Utara itu.

Tidak sampai disitu, sambungnya, adanya paradigma keliru bahwa perempuan dan anak salah satu faktor terjadinya kekerasan dalam rumah tangga menambah daftar panjang masalah. Untuk itu diperlukan langkah kongrit yang terstuktur dan terprogram yang dilakukan secara masif, terintergrasi, terpadu, dan intensif.

“Hal itu perlu dilakukan secara rapi dan transparan di masyarakat dalam bentuk sosialisasi edukasi dan program strategis membangun ketahanan keluarga melalui penguatan perlindungan perempuan dan anak,” ucap Darmayanti.**(rls)