JAKARTA -- Gaungriau.com -- Sistem pendidikan Indonesia sudah semestinya dibenahi untuk menghadapi persaingan ketat dengan bangsa lain di era globalisasi. Dengan demikian peran guru dan dosen memiliki fungsi dan peran yang strategis untuk mutu pendidikan Indonesia akan datang.

Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mengatakan fakta dilapangan pada tahap implementasi ditemukan banyak permasalahan dalam sistem pendidikan Indonesia. “Guru dan dosen merupakan pemegang kunci pendidikan Indonesia,” ucapnya saat RDPU tentang penyusunan RUU Perubahan UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Jakarta, Selasa 27 Maret 2018.

Fahira memaparkan ada beberapa permasalahan pendidikan di Indonesia. Pertama adalah kualitas serta kompetensi guru dan dosen yang masih belum memadai, sistem rekrutmen serta distribusi guru dan dosen yang berakibat pada kekurangan guru dan dosen di daerah, dan pengembangan karir serta kompetensi guru dan dosen yang tidak sejalan oleh pemerintah. “Atas dasar itu kami mencari solusi pengaturan regulasi guru dan dosen,” tegas dia.

Ia menambahkan, sekitar 60 persen Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di dominasi oleh lulusan SMP ke bawah. Tentunya hal itu tidak terlepas dari sistem pendidikan, dimana aktornya adalah guru dan dosen. “Kami berharap perubahan UU No. 14 Tahun 2005 dapat menjadi solusi beberapa permasalahan yang kini tengah dihadapi,” kata senator asal DKI Jakarta itu.

Dikesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Dosen Indonesia Suyatno membenarkan bahwa masalah kurangnya guru di daerah sangat meresahkan. Manurutnya, hal itu karena kebijakan otonomi daerah (otda) maka manajemen guru tidak berada di pusat. “Jika di daerah itu tergantung oleh kepala daerah maka ada unsur politisasi. Jika manajemen guru ada di pusat maka akan lebih mudah,” papar dia.

Suyatno menceritakan bahwa guru-guru di waktu dulu sangat luar biasa dedikasinya terhadap anak didik. Sedangkan, guru masa kini hanya memikirkan diri sendiri yang berfikir untuk bagaimana naik pangkat dan mengurus sertifikasi. “Maka mereka mengejar seminar-seminar. Guru seperti dulu, sekarang ini jarang maka ini menjadi krusial,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Budi Djatmiko mengatakan guru dan dosen merupakan pelopor dasar pendidikan maka otomatis perannya sangat penting. Namun di era globalisasi seperti saat ini, pendidikan Indonesia perlu berfikir sains dan teknologi. “Jadi guru harus berinovasi dan jangan mengajar menggunakan cara lama,” cetusnya.**(rls)