SIAK -- Gaungriau.com -- Walaupun dolar ditutup diangka 14.414 perdolarnya, pada Rabu 18 Juli 2018, seyogyanya bisa menguntungkan petani sawit, Dengan rupiah bertengger diangka segitu perdolarnya harga TBS paling tidak perkilonya bisa mencapai angka 1700 rupiah.

Tapi fakta dilapangan berbicara lain, begitu tingginya tukar rupiah terhadap Dolar, harga TBS anjloknya luar biasa saat ini, membuat seluruh petani sawit memekik di buatnya.

Pada beberapa malam yang lalu disalah satu siaran TV swasta wapres JK mengatakan bahwa melonjaknya tukar rupiah terhadap Dolar tentu hal ini akan menguntungkan petani sawit.

"Karena CPO dijual hitungannya menggunakan kurs Dolar, kita berharap melonjaknya tukaran rupiah terhadap dolar, disatu sisi ada dampak positif dan disisi lain juga ada dampak negatifnya, Rani itulah pasaran dunia, "Kata JK.

Sementara itu Sugeng salah seorang petani sawit kecamatan Dayun Kabupaten Siak yang juga merupakan pengurus kelompok tani di Kampung Banjar Seminai,kami sangat mengharapkan harga TBS bisa melonjak.

Akan tetapi apa yang sedang terjadi saat ini walaupun tukar dolar melebihi dari 14000 rupiah perdolarnya, semuanya itu yang terjadi tidak menguntungkan kami petani sawit.

Coba bayangkan Semarang ini untuk harga TBS plasma 1350 perkilogrnya, Dan TBS jenis merupakan jenis yang masuk ketagori yang cukup baik, dan kalau ditengkulak paling hanya mereka beli 1100 rupiah perkilonya.

Apalagi kalau TBS yang berumur dibawah tujuh Tahun harganya lebih terjun bebas lagi.yang aneh ini anjloknya harga TBS ini selalu terjadi setiap kali sesudah lebaran, padahal kondisi buah sawit tidaklah negotiate membludak, ada apakah gerangan sebab musababnya.

Dan berharap kepada Pemerintah supaya dapat menyikapi nasip kami petani sawit terhadap harga TBS ini supaya bisa berpihak pada seluruh petani sawit, "Sebut Sugeng berharap.**(jas)