PEKANBARU -- Gaungriau.com -- Tidak kurang dari 134 penyair dari berbagai provinsi di Indonesia dan mancanegara, merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Riau 3-5 Agustus lalu.

Kegiatan yang ditaja Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) ini merambah hingga ke desa-desa budaya yang ada di Rantau Kampar Kiri. Di antaranya Desa Padang Sawah, Lipatkain, Kuntu dan Tanjung Belit. Para penyair dengan leluasa berdiskusi dan membacakan puisi di tengah-tengah masyarakat. Tak heran, jika kedatangan mereka dielu dan dinantikan bahkan disambut secara adat, seperti dengan silat dan Gendang Oguong.

Di Desa Padang Sawah misalnya, rombongan yang di dalamnya juga ada Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri ini, disambut ratusan masyarakat. Begitu sampai di desa dan melalui rumah-rumah tua, rombongan langsung disambut dengan silat. Persis di tengah jalan di depan rumah tersebut. Di atas jalan tanah dan sedikit berkerikil, dia lelaki berpakaian hitam, saling berhadapan, saling menunjukkan gerak penyambutan.

Tidak jauh dari lokasi penyambutan, tepatnya di halaman salah satu rumah tua, puluhan tikar kecil (matras) sudah terbentang. Penyair duduk melantai bersama masyarakat. Di sinilah para penyair membacakan puisi dan saling berbagi.

Syafi’i, salah satu tokoh masyarakat yang menyambut langsung kedatangan penyair ini mengatakan, Padang Sawah merupakan salah satu desa tua yang memiliki banyak sejarah.

‘’Rumah-rumah tua yang ada di sekitar kita ini menunjukkan desa ini merupakan desa tua. Sisa-sisa tradisi masih terlihat jelas bahkan terawat dengan baik. Kami sangat senang rombongan penyair dari bberbagai provinsi dan mancanegara sudah singgah ke kampung kami. Sangat merakyat. Puisi dan penyair tidak seperti yang kami bayangkan, jauh dan asing. Justru sebaliknya semakin dekat,’’ kata Syafi’i.

Dari Padang Sawah dilanjutkan ke Desa Tanjung Belit dan sleuruh peserta menginap di desa ini, tepatnya di Shelter atau stasiun WWF Subayang. Keesokan harinya, rombongan singgah ke Makan Syekh Burhanuddin di Desa Kuntu dan Balai Adat Lipat Kain untuk jamuan makan siang. Rombongan disambut oleh datuk dan ninik Mamak Desa Kuntu dengan sedikit menyampaikan tentang berbagai sejarah yang ada di Lipatkain.

‘’Jelajah budaya di Rantau Kampar Kiri memperkaya dan menambah inspirasi bagi kami. Banyak sekali yang dilihat. Riau kaya adat dan sejarah. Kalau awalnya kami tahu Rantau Kampar Kiri saat menulis puisi, itu baru kulitnya. Setelah sampai langsung ke tempatnya, sangat luar biasa. Masyarakatnya ramah, alamnya indah,’’ ujar Neneng, salah seorang penyair asal Jawa Barat.**(saf)