KAMPAR -- gaungriau.com -- Desa Pangkalan Serai Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar adalah salah satu desa yang sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan tangkap ikan air tawar. Namun untuk pemasaran hasil tangkapannya dalam bentuk olahan belum optimal. Biasanya ikan hasil tangkapan diolah secara tradisional yang disebut Pekasam.

Berangkat dari kondisi ini, beberapa akademisi Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) memberikan pendampingan dalam bentuk program pengabdian kepada masyarakat pada Kamis 27 September 2018. Program berlangsung selama sembilan bulan dengan sumber dana dari Direktorat Pendidikan Tinggi Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun anggaran 2018.

Tim pengabdian diketuai oleh Evi Marlina beranggotakan Hasmalina dan Isran Biddin itu memberikan pendampinhan berupa pelatihan pengolahan dan pengemasan produk hingga pemasaran kepada para nelayan setempat sehingga hasil olahan itu bernilai ekonomi lebih tinggi.

Belasan nelayan berasal dari dua kelompok antusias mengikuti pendampingan masing-masing dari dusun Telaga Beras dan dusun Muara Biwan. Semula para nelayan tangkap hanya mengolah hasil tangkapan ikan air tawar untuk dikonsumsi keluarga saja dan tidak berfikir akan menjadi produk yang diminati serta bernilai ekonomi tinggi.

Ketua tim pengabdian Umri untuk program ini Evi Marlina mengatakan bahwa dilakukannya program ini adalah salah satu bentuk Dharma Perguruan Tinggi.

"Program pengabdian yang kami lakukan di desa ini adalah salah satu sumbangsih kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Riau dan kita berharap masyarakat terbantu tentunya," ujarnya.

Terkait produk olahan ikan air tawar Pekasam, Evi yakin jika dikelola dengan baik akan memberikan tambahan penghasilan bagi para nelayan. "Saya sangat yakin, produk ikan Pekasam dapat diterima pasar apabila dikemas dengan baik kemudian dilengkapi izin seperti Dinkes P-IRT dan branding produk sehingga bernilai tinggi untuk dipasarkan" ujar dosen fakultas Ekonomi dan Bisnis Umri itu.

Anggota tim pengabdian lainnya Hasmalina yang merupakan akademisi berlatar berakang Kimia menjelaskan "Produk ikan Pekasam adalah ikan yang diolah secara sederhana yang diawetkan melalui proses kimia dengan cara pemberian garam dan bahan tertentu yang dilanjutkan dengan proses fermentasi".

Sementara, Isran Biddin yang merupakan akademisi Umri yang merupakan putra daerah setempat mengatakan bahwa tanah kelahirannya itu memiliki potensi perikanan air tawar yang melimpah.

"Alhamdulillah, kampung saya ini dianugerahi Tuhan sumberdaya alam yang luar biasa. Salah satunya potensi perikanan air tawar yang biasa ditangkap nelayan dengan cara tradisional dan dilestarikan dengan nilai kearifan lokal sehingga kelestariannya terjaga," sebutnya.

Isran Biddin juga mengatakan Dia sangat bersyukur bersama tim pengabdian Umri dapat memberikan sumbangsih pemikiran dan tentunya diperlukan sinergis pihak lain terutama perhatian pemerintah dalam bentuk sarana salah satunya Listrik.

Salah seorang ketua kelompok Nelayan yang didampingi dalam program ini Linda mengatakan, selama ini pihaknya tidak menyadari bahwa produk Pekasam ini jika diolah dan dikemas dengan baik dapat menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup tinggi hingga bisa mencapai harga Rp. 60 ribu perkilo gramnya dan sementara jika ikan dijual di pasar harganya masih di bawah harga olahan Pekasam.

Linda menyebutkan bahwa ikan hasil tangkapan selama ini diawetkan salah satunya menjadi Pekasam adalah karena tidak bisa disimpan menggunakan lemari pendingin yang memerlukan energi listrik, sementara jaringan listrik belum ada. "Ya beginilah kampung kami, belum ada listrik dan untuk apa kulkas" keluhnya.

Terkait pendampingan yang diberikan tim pengabdian Umri membuka matanya bahwa dengan keterbatasan yang ada masih dapat mengolah ikan hasil tangkapan. Karenanya ia beserta para anggota kelompok nelayan berterimakasih dan puas.

"Kami ucapakan banyak terimakasih untuk para dosen Universitas Muhammadiyah Riau yang sudah mendampingi kami dalam program ini. Kami merasa mendapat wawasan baru yang sangat berguna bagi kami" ujar Linda menyudahi.**(rls)