PEKANBARU -- gaungriau.com -- Ahli geologi menyatakan bahwa musibah gempa bumi dan tsunami diPalu dan Donggalamenjadi pengalaman berharga. Sosialiasi lebih dini tentang tanda tanda gempa bumi harus di kedepankan agar warga lebih siap menghadapinya.

Hal itu diungkapKetua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), Sukmandaru Prihatmoko di Pekanbaru, Riau. Dalam penelitian gempa dan tsunami Palu dan Donggala, IAGI sendiri sudah melakukan ekpesdisi di sana sejak tahun 2016.

"Kita melakukan ekspedisi karena di sana merupakan daerah yang dikatagorikan zona rawan gempa karena adanya patahan-patahan lempeng yang berpotensi terjadi bencana tersebut," beber Sukmandaru Prihatmoko di acara HUT ke-47 IAGI di Pekanbaru, Riau.

Seharusnya, sambung Sukmandaru, para akhi geologi menyelesaikan ekspedisinya bulan ini. Namun ternyata gempa dan tsunami mendahului hasil penelitian ilmiah para pakar.

"Oktober ini, seharusnya kita sudah menyesaikan hasil dan menyimpulkan hasil penelitian kita. Namun Tuhan berkehendak lain, gempa dan tsunami sudah datang sebelum penelitian kita selesai. Ini menjadi pengalaman berharga," imbuhnya.

Bencana gempa dan tsunami sendiri memang bisa diprediksi, namun kapan waktunya, itu belum ada kajian ilmiah yang menjangkaunya.

"Dalam musibah gempa bumi, peran pemerintah sangat diperlukan untuk melakukan sosialisasi kepada warga. Jadi jika ada bencana, masyarakat akan lebih siap. IAGI sendiri kedapannya akan intens memaparkan penelitiannya ke perintah. IAGI sudah mempetakkan zona-zona daerah yang rawan. Semua pihak harus berperan aktif untuk mencegah agar bencana bisa meminimalisir korban jiwa karena gempa dan tsunam tidak bisa,"imbuhnya.

HUT IAGI ke-47 dihadiri oleh 500 ahli geologi. Selain masalah bencana, para pakar ini juga akan membahas tentang ekowita yang ada di Riau, salah satunya adalah Ulu Kasok di Kabupaten Kampar.**(rls)