PEKANBARU--gaungriau.com-- Kepala Bagian Humas RSUD Arifin Ahmad Erdinal menghindar dan tidak mau menjumpai wartawan ketika ditanya terkait persoalan limbah rumah sakit yang dibiarkan membusuk berbulan-bulan mengendap di Tempat Penampungan Sampah (TPS) RSUD Milik Pemprov Riau ini.

Awak media ini langsung mendatangi ruangan Humas RSUD Arifin Ahmad, Senin 19 November 2018 untuk melakukan konfirmasi langsung terkait permasalahan sampah-sampah yang dibiarkan berbulan-bulan termasuk limbah B3.

Namun, Erdinal tidak ada di ruangan. Awak media ini diterima Kasubag Humas dan Kemitraan RSUD Arifin Ahmad, Masriah. Awalnya, Masriah mengatakan dirinya tidak berwenang untuk menjawab persoalan tersebut dan Kabag Humas sudah pulang dan tidak ada di kantor. Setelah itu, Masriah langsung menelpon Erdinal untuk menjawab pertanyaan awak media ini dan langsung suara HP dikeraskan suaranya (loudspeaker) diaktifkan Dan Erdinal menyatakan tidak mau menjumpai awak media.
"Bilang saja saya lagi di luar," ungkap Erdinal melalui telepon Masriah kepada wartawan, Senin 19 November 2018.

Kemudian, Masriah mengaku persoalan sampah yang berbulan-bulan di RSUD memang terjadi dan persoalan tersebut sudah dijawab melalui beberapa media.
"Memang ketika media kemarin datang ke sini belum diangkat dan sekarang itu sudah diangkat," ungkap Masriah.

Ketika ditanya apa layak dan tidak membahayakan untuk lingkungan dan kesehatan lingkungan rumah sakit. Masriah berdalih dirinya tidak berwenang menjawab persoalan tersebut.
"Saya tidak mememiliki kewenangan menjawab itu. Itu kewenangan Kabag Humas yang menjawabnya," ujarnya.

Limbah medis di Rumah Sakit Umum Arifin Achmad, Pekanbaru, yang masuk dalam kategori limbah B3 (limbah bahan berbahaya dan beracun) yang diduga sebagai limbah berbahaya itu sudah berbulan-bulan menumpuk tidak diangkut ataupun diolah sebagaimanamestinya.

Sampah medis bahan berbahaya dan beracun, di antaranya yakni bekas jarum suntik, botol dan selang infus, botol bekas vaksinasi, serta sampah-sampah lainnya. (rud)