• Sri Fitria Retnowati SSi MT

PEKANBARU -- gaungriau.com -- Secara spesifik masalah bagi anak-anak panti asuhan dalam belajar adalah masih lemahnya penguatan kemampuan menguasai bahan pembelajaran secara cepat (Quantum Learning) dan kemampuan softskill.

Hal itu didapati dari hasil pengamatan di Panti Asuhan, yang dilakukan oleh Wakil Rektor (Warek) I Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) Sri Fitria Retnowati, SSi, MT, bahwa pengembangan materi penguasaan kemampuan belajar cepat dan pembelajaran sofskill masih sangat sedikit.

Sri menjelaskan, kurangnya sarana media pembelajaran juga menghambat peningkatan kemampuan belajar cepat dan softskill bagi anak-anak panti tersebut. Kalaupun ada, pengajaran softskill di Panti Asuhan masih belum terintegrasi antara Ranah Kognitif, ranah afektif dan psikomotorik.

"Hal ini mengakibatkan sebagian anak-anak panti tidak memiliki kepercayaan diri tinggi, karakter yang lemah dan tidak memiliki impian ketika sudah diharuskan hidup mandiri," sebutnya.

Untuk itu, Sri menegaskan, sebagai lembaga pendidikan tinggi, Umri memiliki kewajiban untuk dapat menciptakan SDM yang tangguh dan berkarakter, tidak hanya di lingkungan sendiri namun juga harus dapat dirasakan bagi masyarakat khususnya anak-anak dan remaja dan lebih khusus lagi bagi anak-anak Panti Asuhan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut Umri menjalin kerjasama dengan Panti Asuhan Putri Aisyiah dan Panti Asuhan Al Hasanah dalam kegiatan kemitraan masyarakat yang sejalan dengan Program Ristekdikti.

"Kedua Panti Asuhan ini berada di wilayah yang sama dengan Umri di Kota Pekanbaru. Panti Asuhan Putri Aisyiah Pekanbaru berdiri semenjak tahun 1979 dan saat ini mengasuh 31 orang. Sedangkan Panti asuhan Al- Hasanah berdiri sejak tahun 2000 dan saat ini mengasuh 90 anak," jelasnya.

Sri menambahkan, dari kegiatan pengamdian yang dilaksanakan beberapa waktu lalu terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi mitra adalah ini, pertama lemahnya kemampuan belajar dan penguasaan materi pembelajaran peserta didik di panti asuhan. Kedua, lemahnya karakter, kepercayaan diri anak panti asuhan, ketiga, jumlah dan kemampuan pembina yang terbatas.

Dari permasalahn itu, solusi yang ditawarkan dijelaskan Sri adalah penerapan Metode Belajar Quantum Learning. Melakukan pendidikan softskill bagi anak panti asuhan yang ditekankan pada ditanamkan penguatan karakter, etika moral, pemahaman kebhinekaan bangsa dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Workshop pemahaman Quantum Learning dan Softskill untuk pembina panti.

"Target luaran program yang ingin dicapai adalah pertama, meningkatnya kemampuan dan keterampilan mengingat, membaca dan menulis bagi Anak Panti, kedua, Anak Panti memiliki pemahaman pentingnya karakter diri, Kepercayaan diri, kebhinekaan bangsa dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dan yang ketiga Pelaksanaan workshop ToT Quantum learning dan Softskill untuk pembina panti," urainya.

Dia juga menambahkan kalau dalam program ini telah diberikan pembelajaran Quantum Learning dan materi softskill dengan target meningkatkan kemampuan belajar cepat dan ditanamkan penguatan karakter, etika.

Karena ini sejalan dengan isu utama pendidikan anak dan remaja di Indonesia adalah kemampuan softskill dalam hal Etika moral, kepedulian terhadap kebhinekaan bangsa serta kelestarian lingkungan serta Hardskill dalam hal peningkatan kemampuan menguasai pembelajaran.

"Kegiatan yang dilaksanakan berikutnya adalah Pelaksanaan ToT Quantum Learning dan Softsikl kepada guru pembina panti asuhan, serta kegiatan publikasi dimedia dan penerbitan jurnal ilmiah. Kegiatan ini dilaksanakan selama 7 bulan sejak maret hingga September 2018," pungkasnya.**(rls/nik)