• Tamrin

BENGKALIS -- gaungriau.com -- Koperasi Meskom Sejati yang menjalankan manajemen bagi hasil lahan plasma dari olahan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Meskom Agrosari Masa (MAS) hanya bisa mengurut dada, terhadap keluhan salah satu kelompok Dusun Simpang Baru, Desa Teluk Latak.

Hal itu disampaikan Ketua Koperasi Meskom Tamrin, saat ditemui di kantor Koperasi Meskom Sejati di Jalan Senayan, Kamis 7 Desember 2018 sore.

Tamrin yang didampingi Sekretaris Koperasi Norizal memaparkan, kondisi hari ini hendaknya bisa dimaklumi oleh semua kelompok pemilik lahan. Karena, hari ini harga buah sawit mengalami penurunan yang cukup jauh dari bulan lalu, sehingga berpengaruh pada hasil produksi minyak sawit.

“Ya kami hanya bisa mengurut dada, karena masih ada kelompok masyarakat pemilik lahan yang mengeluhkan soal tranparansi keuangan kami sebagai pengurus koperasi. Padahal, bulan-bulan lalu masyarakat penerima dari 3.100 lebih atau anggota koperasi itu masih menerima dengan angka yang bagus, dan baru triwulan ini saja mengalami penurunan harga,”kata Tamrin.

Menurutnya, untuk hasil panen buah sawit saat ini tidak bisa diprediksi hasilnya. Sehingga sebagian besar masyarakat kelompok tidak memahami kondisi, masalah perkebunan ini disebabkan cuaca (alam) serta, kondisi harga sawit secara nasional.

“Kita hargai apa yang disampaikan masyarakat kelompok, namun perlu dicari tahu, karena hari ini harga buah sawit dari Juli-September 2018 mengalami penurunan di angka Rp 700 per/Kg, maka dari itu kami akan sekuat tenaga, untuk memperjuangkan anggota, bagaimana kondisi ini bisa berjalan, sebagaimana mestinya, dan perusahaan PT Meskom Agro Sarimas bisa tetap menghasilkan produksi yang baik,”kata Tamrin.

Ia mengatakan, di Januari hingga Maret 2018, harga buah sawit sangat bagus, sehingga hasil produksi baik, dan masyarakat kelompok menerima haknya sesuai dengan luas lahan. Begitu juga di bulan April hingga Juni, semua berjalan baik.

“Untuk transfer bagi hasil itu sama sekali tidak dilakukan koperasi, melainkan dari perusahaan pusat langsung ke rekening Unit, dan unit langsung ke rekening kelompok melalui Bank yang ditunjuk, jadi soal uang bagi hasil pembayaran tidak melalui koperasi,”katanya.

Soal keluhan kelompok masyarakat dari Teluk Latak ini, sambungnya lagi. Sebagai pengurus koperasi, minta maaf atas miskomunikasi yang terjadi.

“Ya jika kami dituduh tidak transparan, maka kami terima dengan lapang dada, kami minta maaf, karena kami sebagai pengurus belum sempat memanggil kelompok dan anggota yang merasa tidak puas dengan hasil yang didapat, karena menurut kami persoalan ini juga mendesak. Dimana perusahaan sedikit mengalami keterlambatan pembayaran,” paparnya.

Kami perjuangan untuk anggota, ketika mereka mendapat 1 juta lebih pernahkan mereka mengadu ke media.

Meskipun demikian, sambungnya, Koperasi tidak akan berpangku tangan menyikapi hal ini, dan terus akan berbenah untuk lebih transparan kepada masyarakat kelompok atau anggota koperasi meskom sejati.

“Apa yang dihasilkan hari ini, itu semua sudah dipotong segala bentuk hutang dalam pembangunan perkebunan, misalnya kita dapat hasil produksi dari perusahaan Rp 10 miliar dari seluruh kelompok dari sejumlah desa, umpanya di potong utang Rp 1,5 miliar, sementara kita dapat hasil produksi Rp 1,7 miliar, maka ada keuntungan Rp 200 juta, sehingga Rp 200 itulah yang dibagikan ke anggota,”paparnya sembari mengatakan koperasi hanya melihat angka-angka saja, tanpa mengetahui langsung bentuk uangnya.**(man)