• Pertemuan Sutikno (tengah) dengan Kepala Desa Bagan Limau

PELALAWAN--Gaungriau.com-- Direktur Eksekutif Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo Yuliantony menegaskan cukong perkebunan kelapa sawit di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) bisa dibawa proses hukum ke pengadilan.

Hal itu disampaikannya ketika dikonfirmasi ratusan hektar lahan perkebunan sawit diduga dikuasai pengusaha Sutikno Cs (Dan Kawan-Kawan) yang tergabung dalam Kelompok Tani Bunga Tanjung di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kecamatan Ukui Pelalawan.

Yuliantony menjelaskan, kalau masyarakat yang mau pindah itu nanti ada lahan-lahan di luar kawasan TNTN Tesso Nilo. Perusahaan yang sudah dicabut hak pengelolaannya itu diserahkan kepada masyarakat. Lahannya berapa hektar itu ada dari pemerintah.

"Setelah ditawarkan, masyarakatnya tidak mau terima ada penegakan hukum nanti. Itu sudah berproses sudah didata dan lahan yang dicabut haknya itu sudah ada. Bahkan sudah ada disidang sekarang," ungkap Yuliantony kepada wartawan, Jumat 21 Desember 2018.

Ditegaskannya, lahan perkebunan sawit di kawasan TNTN Tesso Nilo tidak akan pernah bisa dijadikan lahan Tanah Objek Reformasi Agraria (TORA).

"Tora dalam TNTN tidak diizinkan. Kalau mereka (pihak desa) mengusulkan tidak apa-apa tetapi tidak akan tembus itu menjadi TORA," terang Yuliantony.

Kendati demikian, Yuliantony mengaku, dalam penegakan hukum masih ada keterbatasan. Apalagi, hampir 50 persen lahan TNTN sudah jadi sawit.

"Tapi targetnya cukong-cukong dulu yang luasnya lebih dari 25 hektar. Kalau pak Sutikno Cs (Atas nama koperasi kelompok tani), berarti cukong dia (Sutikno, red) itu mas. Bisa dilaporkan itu apalagi sekarang masyarakatnya sudah pro nasional Desa Bagan Limau itu," tandasnya.

Kepala Desa Bagan Limau Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan Parsana mengungkapkan, saat ini lahan perkebunan sawit Sutikno Cs di kawasan TNTN sudah diusulkan kepada pemerintah pusat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

"Itu sudah diusulkan menjadi TORA kepada pemerintah pusat," ujar Parsana.

Sutikno Anggota Kelompok Tani Bunga Tanjung mengaku telah membeli lahan kepada Kebatinan (pemangku adat) di Desa Lubuk Kembang Bunga pemekaran dengan Desa Bagan Limau. Koptan bunga Tanjung menguasai ratusan hektar lahan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Lahan tersebut ditanami kelapa sawit.

Padahal, kawasan TNTN sangat penting dipertahankan dan sangat strategis sebagai habitat pelestarian satwa besar seperti gajah, harimau dan lain-lain dan berbagai jenis flora serta TNTN berfungsi untuk konservasi air dan tanah. Hal itu sesuai dengan Undang Undang nomor 5 tahun 1990, tentang konservasi sumber daya hayati dan UU nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan serta Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Suaka Alam dan Pelesatarian Suaka Alam dan Pelestarian Alam.

Terlebih, Menteri Kehutanan RI sudah menunjuk Tesso Nilo sebagai Taman Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 255/Menhut-II/2004. Perubahan fungsi kawasan hutan produksi terbatas menjadi TNTN yang terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu Provinsi Riau mencakup luasan 38.576 ha.

Sesuai ketentuan tersebut, lahan Sutikno Cs diyakini termasuk kawasan TNTN. Namun sampai saat ini Sutikno Cs masih menguasai dan menikmati hasil ratusan hektar lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut.

Sutikno melalui orang kepercayaannya Po Ho mengaku Sutikno hanya memiliki 10 hektar lahan dari ratusan hektare lahan Kelompok Tani Bunga Tanjung di Kawasan TNTN Pelalawan.

"Lahan punya pak Sutikno hanya 10 hektare. Sisanya yang ratusan itu adalah milik kelompok tani yang diamanahkan kepada Pak Sutikno mengelolanya," beber Po Ho.

Ketika ditanya alas kepemilikan lahannya di kawasan konservasi TNTN, staf Sutikno ini mengaku lahan tersebut dibeli tahun 1998 dengan SKGR terakhir tahun 2005.

"Beli tahun 1998, SKGR 2003 - 2005," tandas Po Ho. ** (rud)