Gaungriau.com (PASIR PENGARAYAN) -- Kepala Puskesmas (Kapus) Rambah, jadwalkan gotong royong ( Goro) serta melakukan pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ke desa/ Kelurahan di kecamatan Rambah termasuk kawasan endemis Demam Berdarah Dengue (DBD).

Itu dilakukan Plt Kapus Rambah Syafri Maldi, menyikapi ditemukannya 24 kasus DBD yang terjadi di lima desa/ Kelurahan di Kecamatan Rambah, bahkan sudah merengut 1 nyawa warga Desa Menaming akibat penyakit yang disebabkan Nyamuk Aedes Agepty.

"Berapa hari Lalu, kita bersama Camat Rambah Fatahnalia Putra, Kapolsek Rambah, UPTD, serta 13 kepala desa dan 1 lurah, se kecamatan Rambah, menggelar rapat lintas sektoral. Itu menyikapi bagaimana Kita mengatasi masalah DBD yang terjadi, termasuk programkan kebersihan lingkungan sehingga masyarakat bebas dari berbagai penyakit," terang Plt Kapus Rambah, Syafri Maldi, Jumat 28 Juni 2019.

Sebut Plt Kapus Rambah yang akrab disapa Efi, 24 kasus DBD yang terjadi, 12 kasus di Desa Koto Tinggi, Desa Rambah Tengah Barat 5 kasus, 4 kasus di Kelurahan Pasir Pangaraian, 2 di Desa Pasir Maju, dan 1 kasus korban meninggal dunia setelah positif DBD di Desa Menaming.

Efi mengakui, pasca DBD yang menyebabkan sekitar sepekan lalu Anita (38) warga Dusun Tanking Godang I desa Menaming posiif DBD. Nyawa Anita, nyawanya tak tertolong, karena keterlambatanya berobat.

"Awalnya warga tersebut ditangani bidan desa, dan diperkirakan awalnya demam biasa saja kemudian dirujuk bidan desa untuk dibawa ke RSUD, namun korban positif DBD kemudian penangannya terlambat sehingga tidak tertolong lagi nyawanya," jelas Efi.

Namun kata Efi, petugasnya sudah turun, dan melakukan poggig serta melakukan PSN. Di lokasi ditemukan, penyebab DBD Anita karena banyaknya tempurung kelapa tempat berkembangnya jentik Nyamuk DBD, di lokasi tempat korban berdagang.

Plt Kapus Rambah menghimbau, agar warga melakukan goro Dan PSN di lingkungan tempat tinggalnya . Dan yang paling penting, agar menerapkan 3 M, karena untuk pogging kecamatan Rambah hanya mendapatkan jatah 7 lokus atau 7 titik saja.

"Sementara kita terjadi 24 kasus DBD, dan jatah pogging untuk 7 lokus. Sehingga 17 lokus pogging di Lima desa biayanya kita yang menanggungnya sendiri," kata Efi.

Selain goro dan PSN, pasca rapat lintas Sektroral Plt Kapus Rambah Juga sudah mengusulkan ke Camat, agar seluruh kepala desa anggarkan dari Dana Desa maupun ADD, untuk pembuatan pamplet atau pengumuan himbauan ke warga terkait bahaya DBD dan upaya penangannya sehingga masyarakat akan lebih memahaminya, walaupun melalaui bidan desa serta petugas pukesmas himbauan bahaya DBD terus dilakukan.**(lim)