Gaungriau.com (DUMAI) -- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Dumai lakukan Sosialisasi uji emisi gas bangi kendaraan bermotor di Kecamatan Bukit kapur, acara tersebut dibuka oleh sekretaris Camat Bukit Kapur Wagimen.

Dari pihak Dishub Dumai hadir Kepala Bidang Pengembangan Keselamatan Bermotor Otto Permadi, para ketua RT se Kecamatan Bukit Kapur serta undangan lainnya.

Dalam sambutannya waginen mengatakan, bahwa Sosialisasi uji emisi ini sangat penting demi keselamatan masyarakat Sebagai pengendara kendaraan bermotor baik itu Roda dua Maupun Roda empat, dari itu Dia berharap apa yang didapat dalam Sosialisasi ini hendaknya bisa dijelaskan kepada sanak saudara handai taulan agar semua masyrakat memahami keselamatan Dalam menggunakan kendaraan bermotor.

"Karena pentingnya uji emisi ini pemko dumai mengeluarkan Peraturan daerah no 6 tahun 2014 serta Peraturan walikota Dumai no 15 tahun 2014 tentang penyelenggaraan pengujian Dan uji emisi gas buang kendaraan bermotor,"lanjut Sekcam.

Disisi lain Otto Permadi menjelaskan, pembakaran kendaraan bermotor pada umumnya memiliki dampak negatif terhadap lingkungan khususnya kehidupan manusia di bumi. Karena hasil pembakaran kendaraan yang disebut dengan emisi gas dapat merusak lingkungan baik itu tanaman, air dan hewan maupun kehidupan manusia sendiri dengan timbulnya berbagai macam penyakit.

Hal ini yang menjadi momok bagi masyarakat seluruh dunia untuk mengurangi emisi gas yang sudah semakin tidak terkendali dengan banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang setiap waktunya. Kandungan emisi gas yang berpotensi menjadi racun yang mencemari lingkungan sangat banyak.

"Ada lima unsur dalam gas buang kendaraan yang diukur yaitu senyawa HC ( Hidrokarbon ), CO ( Karbon MonoO=ksida ), CO2 ( Karbon Dioksida ), O2 ( Oksigen ) dan senyawa NOx ( Nitrogen Oksida ). Sedangkan negara – negara yang tidak terlalu ketat emisinya hanya mengukur 4 senyawa unsur ga buang yaitu Senyawa HC, CO, CO2, dan O2,"jelas Dia.

Dalam hal ini Dia membahas salah satu bahan bakar minyak dunia yaitu bensin. Bensin adalah senyawa hidrokarbon, jadi setiap HC yang didapat di gas buang kendaraan menunjukkan adanya bensin yang tidak terbakar dan terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila suatu senyawa hidrokarbon terbakar sempurna (bereaksi dengan oksigen) maka hasil reaksi pembakaran tersebut adalah karbondioksida (CO2) dan air(H¬2O).

"Walaupun rasio perbandingan antara udara dan bensin (AFR=Air-to-Fuel-Ratio) sudah tepat dan didukung oleh desain ruang bakar mesin saat ini yang sudah mendekati ideal, tetapi tetap saja sebagian dari bensin seolah-olah tetap dapat “bersembunyi” dari api saat terjadi proses pembakaran dan menyebabkan emisi HC pada ujung knalpot cukup tinggi,"terangnya

Tentunya pengukuran emisi gas buang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu mulai dari enam bulan sekali atau satu tahun sekali. Pengukuran tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan instrument gas ditector Alat ini dapat membantu untuk mendapatkan pengukuran berbagai macam senyawa.gas director merupakan instrument terbaik untuk melaksanakan emisi gas buang untuk mengendalikan lingkungan demi keselamatan kehidupan manusia di bumi.

Alat uji emisi ini adalah sebuah alat uji untuk menganalisa dan mengetahui tingkat konsentrasi dari nilai HC, CO, dan OZ yang mengikat berubah didalam zat gas. pengujian juga dapat dilakukan untuk menguji perubahan kandungan gas berlebih. "Kegiatan pengujian ini baik dilakukan pengaplikasiannya pada mesin-mesin industri maupun mesin-mesin kendaraan," pungkas Otto permadi.**(lan)