PEKANBARU--Gaungriau.com-- Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina memberikan izin pulang kepada pasien yang positif covid19 berinisial WA (47). Al hasil, pasien dan keluarga pasien dikucilkan masyarakat sekitar dan usaha keluarga mereka pun ikut mati.

Pasalnya, setelah diizinkan pulang oleh RSI Ibnu Sina, pasien dijemput tim gugus covid19 dengan pakaian hazmat lengkap dengan standar covid19. Kendati, pasien akhirnya dinyatakan negatif setelah dua kali menjalani tes swab di RSUD Arifin Ahmad.

Berikut penjelasan Direktur RSI Ibnu Sina melalui Humas RSI Ibnu Sina Fani yang memberikan pasien positif covid 19 yang sebelumnya merupakan pasien pdp (pasien dalam pengawasan) Covid 19 yang sudah dirawat beberapa hari dalam ruangan isolasi RSI Ibnu Sina.

Fani menjelaskan pasien atas nama Warti Amiliza (47) memang sudah dirawat di ruangan isolasi RSI Ibnu Sina karena pasien memiliki gejala covid19. Kemudian, pasien sudah dilakukan tes swab sebanyak dua kali. Dengan hasil tes pertama negatif dan hasil kedua hasilnya positif.

RSI Ibnu Sina memberikan izin pulang kepada pasien atas permintaan pasien dan keluarga pasien yang sudah dirawat di ruangan isolasi karena diduga terpapar covid19.

"Pasien ini pulang istilahnya paps atau pulang atas permintaan sendiri. Setelah pasien disebelahnya itu meninggal dunia karena covid19. Mungkin mereka kuatir pasien minta pulang paksa dan keluarga keukeh ingin pulang. Itu ada hak pasien kami tidak boleh melanggar itu. Jadi, Pasien itu pulang sebelum keluar hasil tes swab, " papar Fani kepada wartawan, Selasa 30 Juni 2020.

Fani menerangkan, pihak RSI Ibnu Sina tidak ada melakukan tes swab tersebut karena pihaknya hanya mengambil sampel saja untuk dikirim dan dilakukan tes swab oleh pihak RSUD Arifin Ahmad. Sehingga, setelah ada hasil tes pihak RSUD Arifin Ahmad, Tim gugus baru menjemput pasien ke rumahnya untuk dirawat dan dites lagi.K arena, swab semua rumah sakit di Pekanbaru ini dikirim dan dilakukan di RSUD Arifin Ahmad.

"Jadi, tim gugus menjemput pasien karena hasil tes dari mereka dan hasil tes tersebut disampaikan kepada kita pihak rumah sakit dan diskes. Setelah, hasil tes itu keluar dari RSUD Arifin Ahmad lalu kita kirimkan kepada keluarga pasien, " terang Fani.

RSI Ibnu Sina membenarkan pelayanan ruangan isolasi yang membuat pasien tidak betah. Sehingga, pasien juga minta pulang karena pelayanan yang lambat dan bahkan pasien baru dapat bantuan setelah ada menulis minta tolong di kaca ruangan isolasi.

"Memang ruangan isolasi seperti itu, perawat ada jam jamnya. Semua isolasi memang seperti itu, kita tidak mau mengambil resiko, " beber Fani.

Bahkan, RSI Ibnu Sina menutup komunikasi pasien yang dirawat di ruangan isolasi dengan keluarga pasien dengan tidak memberikan izin menggunakan alat komunikasi HP.

" Kita memang tidak membolehkan pasien isolasi memegang Handphone, karena sebelumnya pasien isolasi berontak dan menyampaikan hal yang tidak benar kepada keluarga supaya dikeluarkan dari situ (ruangan isolasi). Dari situlah kami mengambil kebijakan tidak boleh ada handphone untuk pasien isolasi, " bebernya lagi.

Sementara itu, keluarga pasien yang mempercayakan persoalan ini kepada Lembaga KPK (Komando Pemberantasan Korupsi) mempertanyakan hasil tes swab berbeda antara pihak RSI Ibnu Sina dan RSUD Arifin Ahmad. Sehingga, adanya perbedaan hasil tes tersebut banyak memberikan kerugian kepada keluarga pasien baik secara ekonomi maupun sosial.

Ketua Lembaga KPK Muhammad Rizal menjelaskan akibat persoalan tersebut pasien dan keluarga pasien dikucilkan masyarakat, usaha mereka mati dan dampak sosial yang merugikan pasien dan keluarga pasien termasuk lingkungan sekitar yang ketakutan adanya masyarakat sekitar positif covid19.

Muhammad memaparkan, berdasarkan surat keterangan dari RSI Ibnu Sina kepada keluarga pasien yang dikeluarkan Wadir pelayanan dan penunjang medik RSI Ibnu Sina dr Rifa Rosanti tertanggal 19 sudah dilaksanakan dua kali pemeriksaan sampel swab PDP Covid 19 dengan metode real time PCR dengan hasil swab pertama negatif dan swab kedua positif. Kemudian, dua kali hasil swab tes RSUD Arifin Ahmad negatif tertanggal 25 Juni 2020 yang ditandatangani Ketia Tim Covid 19 RSUD Arifin Ahmad de Sri Indah Indriani menunjukan hasil negatif sehingga pasien dibolehkan pulang.

"Kita minta pihak rumah sakit bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur). Jangan sampai ini merusak kepada ekonomi sosial pasien dan keluarganya. Karena akibat ini pasien dan keluarga pasien dikucilkan ekonomi mereka mati dan sosial menjadi rusak, masyarakat ketakutan, orang-orang menjadi ketakutan untuk mendekat dan beribadah ke rumah ibadah dekat tinggal pasien, " bebernya.

Menurutnya, pihak pemerintah harus meluruskan persoalan ini kepada masyarakat karena persoalan ini sudah merusak usaha ekonomi pasien, keluarga pasien masyarakat dan masyarakat sekitar.

" Ini harus diluruskan pemerintah yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakatnya. Kemudian, SOP rumah sakit Ibnu Sina harus dilihat apakah sesuai dan apakah sudah siap.

Lembaga KPK meminta kepada pihak betul betul bekerja sesuai SOP. Jangan sampai salah dalam menentukan hasil tes yang merugikab masyarakat.

"Kita akan turun investigasi ke rumah sakit kenapa hasil ini bisa berbeda, apalagi berdasarkan hasil investigasi kita pasien yang dirawat disamping ruangan pasien ada yang meninggal dunia karena covid19, " tandas Muhammad. **(rud)