Gaungriau.com (PEKANBARU) -- Tim Peneliti Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) berhasil menciptakan teknologi alat pengering buah yang lebih irit dan simpel. Penemuan alat tersebut diharapkan bisa menggantikan alat vacuum frying yang selama ini digunakan masyarakat pelaku usaha keripik nenas di Desa Kualu Nenas Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.

Tak hanya itu, 2 unit hasil inovasi dosen-dosen Umri tersebut juga diserahkan secara cuma-cuma kepada kelompok tani di Desa Kualu Nenas, Kampar.

Salah seorang peneliti, Sunaryo menjelaskan, alat yang belum memiliki nama tersebut diklaim memiliki banyak keunggulan mulai dari hemat listrik, hingga mengeringkan buah nanas tanpa minyak goreng.

"Kita berhasil menciptakan Alat Pengering Buah yang cocok untuk memproduksi keripik nanas dengan chost rendah. Untuk mengoperasikan alat ini hanya butuh listrik 25 watt, tanpa air pendingin, dan tanpa minyak goreng," ujar Sunaryo, Kamis 8 Oktober 2020.

Ia membandingkan dengan vacuum frying yang saat ini digunakan kelompok usaha Keripik Nenas Tani Sakinah di Desa Kualu Nenas. Alat tersebut menggunakan listrik 750 watt dan harus menggunakan minyak goreng hingga 35 liter.

"Kita sudah banding-bandingkan, alat kita ini lebih hemat chost produksi hingga 60 persen sehingga diharapkan bisa meringankan beban pelaku usaha kecil," kata Sunaryo didampingi Aidil Haris dan Khusnul Hanafi.

Tak hanya hemat listrik, waktu yang dibutuhkan memproduksi keripik nenas juga lebih singkat satu jam dari selama ini 3 jam. Alat ini juga bisa menampung 10 kg nanas atau 9 loyang sekali produksi.

Sementara Aidil Haris mengatakan, sebelum alat pengering buah ini diproduksi secara massal pihaknya terlebih dahulu melakukan diseminasi kepada kelompok usaha dari Desa Kualu Nenas yang berlangsung di Hotel Zury Pekanbaru, Kamis 8 Oktober 2020.

"Kedepan jika para pelaku usaha keripik nenas cocok dengan alat tersebut maka pihaknya bersedia memproduksi alat sesuai dengan kebutuhan di lapangan," kata Aidil Haris.

Aidil menceritakan dipilihnya kelompok usaha keripik nenas asal Desa Kualu menerima alat pengering buah buatan mereka karena selama ini mereka fokus membuat keripik nenas dalam jumlah besar, namun di lapangan terkendala inovasi teknologi.

"Tidak hanya menghibahkan dua unit alat pengering buah kepada pelaku usaha keripik nenas, kita juga akan mendampingi mereka hingga mahir menggunakan alat tersebut. Bahkan kita juga memberi pendampingan tentang komunikasi pemasaran melalui media digital," kata Aidil.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Usaha Tani Sakinah Desa Kualu Nenas Mardanis, mengatakan pihaknya terbantu dengan kehadiran dosen-dosen Umri tersebut.

"Selama ini kita dihadapi dengan biaya produksi yang besar. Satu hari kita bisa mengeluarkan chost sebesar Rp1 juta menggunakan vamuum frying. Itu termasuk biaya listrik dan minyak goreng. Dengan adanya alat ini kita berharap bisa memangkas biaya produksi sehingga harga jual kita bisa lebih bersaing," tutup Mardanis.**(rls)