• Ilustrasi

Gaungriau.com (PEKANBARU) -- Petugas mobil pengangkut sampah Kota Pekanbaru merasa sangat terganggu dengan tidak beroperasionalnya alat berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Muara Fajar. Karena untuk satu trip pengangkutan menghabiskan waktu seharian sampai malam.

"Kami ngantri terus seperti ini tak tahan. Padahal alat berat excavator di TPA itu ada 10, cuma 1 yang jalan, kami star jam 4 pagi pulang malam. Biasa Ashar sudah sampai rumah," keluh salah seorang sopir Kasmari, Rabu 18 Nopember 2020.

Dikatakannya, atas kondisi ini warga juga komplain karena sampah lambat diangkat, padahal masalahnya ada di TPA, para angkutan sampah harus mengantri lama untuk bisa membongkar muatannya di TPA.

"Anggaran banyak tapi alat tak jalan, korupsinya dimana ini. Kita yang susah," sesalnya.

Dia juga menambahkan, bahwa kondisi TPA saat ini menganiaya dirinya, karena dalam satu hari hanya bisa sekali bongkar dan itu juga menunggu sampai malam.

"Kita digaji per-trip, satu trip Rp64 ribu, biasanya bisa dua trip sehari, sekarang satu trip sampai malam, tak ada dibawa pulang, uang segitu habis di jalan buat makan dan rokok," sebutnya.

Buruknya sistem pengelolaan sampah di Tempat Penampungan Akhir (TPA) Muara Fajar kembali mendapat sorotan, pasalnya alat berat yang digunakan untuk memindahkan sampah yang baru datang dari truk masih dalam kondisi rusak sehingga terjadi antrian panjang truk sampah dilokasi TPA.

Menyikapi persoalan ini, Roni Pasla anggota Komisi IV DPRD kota Pekanbaru meminta pemko dalam hal ini dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) segera bertindak dan segera mencarikan solusi, bahkan jika tidak kunjung diatasi Roni Pasla menyarankan agar pengelolaan sampah lebih baik diserahkan kepada pihak ketiga.

"Dari kita turun beberapa waktu lalu sampai sekarang persoalannya masih sama yakni ada di alat berat yang rusak, solusi coba meminjam alat berat punya PU tapi terpaksa diambil kembali mengingat kondisi banjir, makanya saat ini kembali terjadi antrian di TPA, jadi saran kita sebaiknya persoalan pengelolaan sampah ini di pihak ketigakan saja," kata Roni Pasla, Rabu 18 Nopemebr 2020.

Dengan di pihak ketigakan pengelolaan sampah di TPA muara Fajar ini, Politisi PAN ini berharap pengelolaan sampah lebih baik, pasalnya selama dikelola oleh pihak Pemko dalam hal Ini DLHK, pengelolaan dilakukan secara tidak transparan terutama terkait penggunaan anggaran.

"Masalahnya sekarang berlarut-larut, dan ternyata anggaran yang disana juga sudah habis, nah ini yang kita sayangkan dari kemaren yakni ketidak tranparan penggunaan anggaran. Makanya kita minta tahun 2021 kita minta dipihak ketigakan, sehingga apa yang dianggarkan bisa dimaksimalkan penggunaaannya dan apapun kejadiannya kita tidak ambil tau lagi. Dan bagi pihak ketiga nantinya tentu harus ada closing pinalti jika kejadian seperti sekarang tidak terulang lagi," tandas Roni.**(dwi)