SELATPANJANG -- Rembetan APBD Meranti yang tak kunjung tergunakan turut berimbas kepada masyarakat dan aktifitas pasar turut lesu. Daya beli masyarakat terlihat turun di pasar. Hingga minus hari kedelapan jelang lebaran kondisi pasar masih lengang.

Bukan hanya gaji Pegawai negeri, honor daerah, honor kantor yang belum cair, juga penjualan komoditi dari perkebunan juga terlihat tidak bergairah. Hasil kebun palawija juga terembet dari daya beli yang rendah.

Bagi nelayan dan petani juga mengalami perekonomian serupa, dimana nilai jual karet masyarakat tidak sebanding cost pengeluaran, begitu juga nelayan, hasil tangkapan tidak mampu di tampung oleh penadah di pasaran.

"ini bola panas yang dialami daerah ini, dimana aktifitas masyarakat mengalami penurunan, roda pemerintahan juga tidak berjalan stabil akibat kekosongan kas daerah  yang hingga kini belum terbaiki oleh sistem rasionalisasi pusat,” kata Mustafa tokoh masyarakat meranti.

Menurutnya, tahun 2016 ini merupakan kondisi terberat yang dialami sejak pemekaran berlangsung, buah pikir mustafa harus ada strtegi khusus dalam menyusun manajemen daerah dan penata kelolaan yang akuntabel.

"Perlu adanya sikap cepat dalam bekerja, bukan hanya tergantung SDM dan anggaran saja namun jika gaya kerja lamban dan tidak memliki ide dan gagasan kreatif juga tidak menjamin sebuah pembangunan daerah mampu berkembang. Kondisi Meranti yang cukup mengalami masa syok ini perlu di antisipasi dengan daya dan kekuatan kerjasama yang kuat antara semua stakeholder dan lembaga terkait,” tegasnya berucap.

Guna me-refresh kondisi ini perlu adanya alternative untuk meminta bantuan ke pusat demi menjaga stabilitas roda pemerintahan yang terus berjalan.

"Jika roda pemerintahan macet berjalan maka akan tentu berimplikasi kepada banyak sector daerah, yang mengakibatkan semakin banyaknya deficit pembangunan dan tertundanya berbagai program kerakyatan,” katanya.**(don)