Gaungriau.com -- Pengamat tranportasi Univertsitas Islam Riau (UIR) H Abdul Kudus Zaini ST. MT menilai kebakaran hutan di Riau tidak hanya menimbulkan kerugian dari sektor ekonomi, namun juga dari sektor pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup. Kebakaran hutan mengakibatkan kabut asap hampir 80 persen menyelimuti pulau Sumatera ini telah menimbulkan kerugian multi sektor.
“Saya rasa persoalan ini tidak akan terjadi berlarut larut setiap tahun kalau pemerintah tegas dalam mengatasi masalah kebakaran hutan. Saya minta pemerintah tindak tegas para pelaku kebakaran hutan. Kebakaran ini sepenuhnya ulah tangan manusia. Hukum pelaku seberat beratnya,” kata Kudus ketika berbincang bincang mengenai dampak pengaruh asap di Riau, Senin 14 September 2015 di Pekanbaru.
Menuru Kudus, disektor ekonomi, terutama dalam bidang transportasi udara, berapa banyak kerugian yang ditimbulkan dengan tidak beroperasinya beberapa bandara. Lumpuhnya bandara hampir terjadi diseluruh bandara di Sumatera kecuali Batam. Coba pikirkan berapa kerugian maskapai penerbagan akibat tertunda atau batal jadwal penerbangan. Belum lagi kerugian waktu bagi konsumen akibat batalnya penerbangan.” Jadi saya tekankan sekali lagi jangan anggap sepele masalah kebakaran hutan. Ini dampaknya sangat besar bagi sektor perekonomian,” kata Kudus.
Disektor pendidikan, kata Kudus, berapa banyak peserta didik mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi tidak bisa melakukan proses belajar di sekolah. Hampir 2 minggu proses pembelajaran di sekolah diliburkan. Berapa banyak materi pembelajran yang tertinggal akibat tidak ada proses pembelajar disekolah.” Siapa yang rugi kalau bukan anak didik kita. Ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Persoalan ini tidak aka terjadi setiap tahun kalau pemerintah tegas menindak pelaku kebakaran hutan di Riau,” kata Kudus.
Disektor kesehatan, kata kudus, berapa masyarakat Riau yang terkena penyakit ISPA. Berdasarkan data hamper 20 ribu masayarakat Riau terkena ISPA yang paling menyedihkan lagi banyak anak balita yang terserang ISPA.” Memang kondisi saat ini belum terasa mungkin berapa tahun kedepan penyakit ini sangat berbahaya bagi kesehatan paru paru. Saya minta tahun ini merupakan tahun terakhir masyarakat Riau menghirup asap. Jangan sampai tahun depan terulang lagi,” kata Kudus yang juga Dekan FT UIR ini
Sementara di sektor lingkungan hidup, kata Kudus, bakal akan terjadi banjir jika musim hujan tiba, Sebba, hutan yang menjadi penyangga banjir tidak lagi ada. Berapa hektar hutan yang telah tandus dibakar oleh orang yang tidak bertanggung jawab.” Saya yakin kalau musim hujan, pasti kita akan terkena banjir karena tidak hutan sebagai penyangga banjir tidak lagi ada,” kata kudus.
Untuk antispasi kebakaran hutan, Kudus yang juga anak pendiri UIR ini menyarankan agar pemerintah mendeteksi dini ketika masuk musim kemarau. Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus mempersiap posko posko di daerah yang rawan kebakaran hutan. Sebab, banyak pengusaha atau perusahaan yang memanfaatkan musim kemarua untuk membakar lahan.” Kalau dapat bulan April atau Mei harus ada posko mengatasi kebakaran hutan. Hal ini untuk mendeteksi kalau ada pelaku yang sengaja membakar lahan atau lahan,” kata Kudus.
Kudus juga tidak sependapat dengan pemerintah yang membuat hujan buatan. Sebab banyak biaya yang dikeluarkan untuk membuat hujan buatan.” Saya nilai tidak efektif pemerintah membuat hujan buatan dengan biaya yang begitu besar. Lebih baik kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdoa agar segala musibah ini tidak terjadi lagi di Riau,” kata Kudus.**(mad)



