• Bupati Kampar H Jefry Noer saat memberikan sambutan pada acara Expose dari pusat penelitian Limnologi LIPI di Kantor Bupati Kampar. (Humas Kampar)

BANGKINANG KOTA -– Kepala kelompok penelitian kualitas air dan pengendalian pencemaran perairan darat pusat penelitian  Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cynthia Henny mengatakan sisa pakan dan feces ikan yang terakumulasi di dasar Danau, sungai/ waduk menjadi penyebab utama penurunan kualitas air SDA dan gangguan ekosistem.

Hal itu dikatakannya saat Expose tentang "Ecosystem Based Approach" dan Ekoteknologi untuk perlindungan dan pengelolaan pemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan di ruang rapat lantai III kantor Bupati Kampar, Senin 23 Nopember 2015.

Cynthia menambahkan, untuk pencapaian hal itu diperlukan konsep Integreted, multitrofik dan Aquacultur artinya Budidaya menggunakan sistem rantai makanan berdasarkan tingkat trofik, tingkat trofik itu kalau dalam rantai makanan kan ada rantai yang paling bawah misalnya planton atau tumbuhan air itu sebagai produsen utama dan kemudian tingkat profit kedua yaitu konsumen seperti ikan-ikan kecil atau zoplanton, zoplanton ini juga dimakan ikan kecil. Bisa naik lagi ke tofik tiga yang ikan besar memakan ikan kecil.

"Tetapi yang kita tawarkan sekarang adalah tumbuhan air untuk pakan budidaya ikan. Nah dalam budidaya ikan ikan itu kita juga menghasilkan limbah. Limbah ini nantinya bisa dijadikan pupuk untuk pakan yaitu tumbuhan air, jadi akan ada terus sirkulasinya. Airnya nya pun tersikulasi karena kita juga pakai pompa ekosistem jadi seperti itu terus, jadi hemat air hingga 70 persen," tambahnya.

"Awalnya kita bisa pakai pupuk apa saja seperti pupuk organik. Kenapa jadi tingkat profit, yaitu kita kita tumbuhin dulu/kita besarkan dulu lele biasa dengan pakan pelet. Nah dari limbahnya itulah kita tumbuhkan tanaman air di kolam-kolam kita alihkan airnya ke kolam-kolam untuk menumbuhkan tanaman air tadi. Tumbuhan air yang setiap hari kita panen untuk memberi makan ikan budidaya untuk produksi, tapi dari produksi nanti tersikulasi lagi," jelasnya.

"Ini program tahun 2016. Untuk awalnya, program ini kita kenalkan, apakah kita bisa membantu,”katanya. Lebih lanjut, Cynthia mengatakan konsep ini bisa juga kita gunakan untuk keramba, cuma di keramba ini kalau bisa juga ada sistem aliran air kalau tidak akan terjadi pengendapan di dasar. Kalau dikolam tidak ada pengendapan di dasar. Karena kan kolamnya tidak terlalu dalam dan airnya bisa terus tersikulasi. Kalau seperti bekas-bekas galian atau danau kecil kita belum tau karena akan penumpukan di dasar," katanya.

"Kalau terkontrol kolamnya lebih bagus pakai terpal. Tetapi kalau ada budidaya yang dikeramba kalau besar tidak perlu pakai terpal. Tetapi kita tetap bisa menggunakan tumbuhan air tadi, kita bisa tarok didanau nya itu untuk mengurangi penurunan limbah nutriun tadi sehingga tidak terjadi blooming pada musim kemarau," tegasnya. 

Sementara, Bupati Kampar Jefry Noer mengatakan sektor potensi perikanan memang harus kembangkan secara optimal, itu ditandakan dengan masih banyak nya kekurangan stok ikan di pasar-pasar. Untuk sekedar kita ketahui saja ikan nila, ikan mas masih didatangkan dari luar daerah Riau hampir 80 persen.

"Maknanya, ini bisa jadikan sebagai suatu peluang yang besar untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Kampar. Untuk lahan percontohan budidaya sendiri bisa nanti kita coba di perkampungan tekhnologi tello yang di Muara Uwai, kita akan buat konsep pendanaan swadaya," pungkasnya.**(man)