Gaungriau.com (DUMAI) -- Jalan adalah salah satu kebutuhan bagi seseorang untuk memudahkannya dalam melakukan perjalanan ke suatu tujuan. Jalan juga sering diberikan nama oleh masyarakat sekitar ataupun oleh pemerintah setempat dengan tujuan agar nama tersebut bisa digunakan sebagai alamat masyarakat sekitarnya dimana alamat sangat penting di era globallisasi saat sekarang ini.

Nama yang diberikan kepada sebuah jalan biasanya memiliki sejarah dan ada filosofinya sehingga dijadikan nama sebuah jalan. Begitu juga pada jalan Simpang Jepang yang berada di daerah Bukit Nenas, Kota Dumai.

Simpang Jepang adalah Jalan yang terletak di kelurahan Bukit Nenas, Kota Dumai, Provinsi Riau. Jalan ini dinamakan Simpang Jepang oleh masyarakat setempat karena pada masa itu yang membuat Jalan ini adalah Tentara Jepang maka dinamakan menjadi Simpang jepang.

Diceritakan oleh Sargimin (80), pada tahun 1961 pertama kali Dia masuk kedaerah Simpang Jepang ini masih terdapat 6 rumah, dan pada saat itu sudah banyak peninggalan tentara Jepang didaerah ini seperti,Sumur, Mobil, Rel Kereta Api, paku beratus-ratus peti dan tentara Jepang sudah membuat jalan diantara Simpang Jepang sampai ketengah hutan Bukit Nenas.

Lalu masyarakat juga menemukan Botol Angin milik Jepang ditengah hutan dan sebagian masyarakat menemukan Motor Hardtop milik tentara Jepang, dan banyak roda angin yang digunakan oleh Tentara Jepang untuk membuat Rel Kereta Api pada waktu itu yang ditemukan oleh masyarakat setempat.

Sargimin tidak tau pasti pada tahun berapa Jepang berada didaerah Simpang Jepang ini karena pada saat itu hanya tinggal peninggalannya saja, tapi masyarakat yakin kalau peninggalan itu milik Jepang.

Dan masyarakat juga menemukan lubang segi empat yang mungkin berisi pekerja yang meninggal dan dibuang dilubang tersebut.

"Jadi, karena berlatar belakang terlalu banyaknya peninggalan jepang yang ditemukan seiring berjalannya waktu diSimpang Jepang inilah mengapa jalan ini dinamakan menjadi Jalan Simpang Jepang," jelasnya.

"Karena masyarkat percaya bahwa peninggalan-peninggalan yang ditemukan oleh masarakat setempat adalah berasal dari jepang. Walapun banyak peninggalan yang berasal dari orang Jepang tapi masyarakat setempat tidak pernah bertemu dengan orang jepang yang meninggalkan benda-beda tersebut,"sambungnya mengakhiri.***

Penulis : Kinanti Fitriani, Mahasiswi Universitas Riau