Gaungriau.com -- Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bengkalis, Adi Putra, berpartisipasi dalam Retret Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara yang diadakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bela Negara Kemenhan, Bogor, Jawa Barat.

Acara yang berlangsung selama empat hari, mulai dari 29 Januari hingga 1 Februari 2026, diikuti oleh 160 jurnalis anggota PWI dari seluruh tanah air. Retret ini menjadi sarana penting untuk memperkuat pemahaman tentang kebangsaan, meningkatkan rasa cinta tanah air, serta memperkuat komitmen untuk bela negara di kalangan jurnalis yang merupakan salah satu pilar demokrasi.

Selama mengikuti retret, para peserta mendapatkan berbagai pembekalan materi strategis di lingkungan Pusdiklat Bela Negara Kemenhan RI. Tidak hanya itu, peserta juga menjalani pelatihan menembak di Markas Kopassus Cijantung, sebagai bagian dari pengenalan kedisiplinan, ketangguhan mental, serta wawasan dasar pertahanan negara.

Retret PWI 2026 ini menghadirkan sejumlah pejabat tinggi negara sebagai narasumber. Di antaranya Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, perwakilan Kementerian Dalam Negeri Akbar Ali, Kementerian Koperasi dan UMKM, BNPB, serta unsur Polri yang diwakili Kadiv Humas Polri dan Karopenmas Mabes Polri.

Dalam pembekalannya, Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan pentingnya menjaga nilai nasionalisme dan patriotisme, khususnya di tengah derasnya arus informasi dan dinamika global.
“Insan pers harus selalu mengikuti perkembangan informasi. Kita tidak boleh tertinggal dan harus menyiapkan antisipasi untuk menjaga kepentingan nasional,” ujar Sjafrie saat memberikan pembekalan di Pusat Kompetensi Bela Negara, Bogor, Sabtu 31 Januari 2026.

Setibanya di lokasi, Sjafrie terlebih dahulu menerima paparan dari Kepala Pusat Kompetensi Bela Negara Brigjen TNI Ferry Trisnaputra, yang menjelaskan tata letak kawasan, pelaksanaan pelatihan, hingga rencana pembangunan sarana latihan Komponen Cadangan.

Memasuki hari ketiga retret, Sjafrie meluangkan waktu khusus untuk hadir langsung dan menyampaikan apresiasi atas semangat serta kedisiplinan para jurnalis. Ia menegaskan bahwa bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara, sebagaimana diamanatkan Pasal 30 UUD 1945, terutama dalam menghadapi ancaman militer maupun nonmiliter.

Menurutnya, insan pers memiliki peran strategis dalam menghadapi perang opini. Wartawan dituntut mampu membaca situasi, menangkal disinformasi, dan menyampaikan informasi yang berpihak pada kepentingan nasional tanpa mengabaikan prinsip jurnalistik.

Selain itu, Sjafrie juga menekankan pentingnya disiplin dan nasionalisme di tengah tantangan digitalisasi, seraya berharap PWI konsisten menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI. Kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang bersama dalam suasana kekeluargaan.

Retret PWI 2026 secara resmi ditutup pada Ahad 1 Februari 2026. Penutupan dipimpin oleh Kepala BPSDM Pertahanan Kemhan Mayor Jenderal TNI Ketut Gede Wetan Pastia di Lapangan Tembak Batalyon 13 Grup 1 Kopassus, Bogor.

Rangkaian penutupan ditandai dengan penanggalan tanda peserta, penyematan brevet bela negara, serta penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta yang dinyatakan lulus sebagai Kader Bela Negara.

Dalam sambutan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan yang dibacakan Kepala BPSDM Pertahanan, Kemhan menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan komitmen para wartawan selama mengikuti retret. Pers dinilai memiliki posisi penting dalam menopang kualitas demokrasi serta membangun kesadaran kebangsaan melalui pemberitaan yang berimbang, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Menanggapi kegiatan tersebut, Ketua PWI Bengkalis Adi Putra salah peserta yang terpilih mengikuti retret tersebut menilai retret ini sangat strategis dalam memperkuat peran wartawan di tengah dinamika kebangsaan.

“Wartawan tidak hanya dituntut profesional dalam kerja jurnalistik, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kebangsaan. Retret ini menjadi sarana penguatan nasionalisme dan profesionalisme agar wartawan mampu menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan berpihak pada kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya. (put)