PEKANBARU -- Untuk terus memberikan pelayanan optimal kepada anak-anak berkebutuhan khusus, para tenaga di Pusat Layanan Autis (PLA) Provinsi Riau diberi pembekalan, mereka yang mendapat pembekalan itu mulai dari Tenaga Terapis sampai dengan petugas cleaning Service.

"ya, hari ini kita memberi pembekalan kepada tenaga di PLA ini, mulai dari Tenaga Terafisnya, Security, petugas cleaning service, dan juga para orang tua diberi kesempatan mengikuti kegiatan ini," Kata Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK PLK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau Sri Petri Hariyati, Kamis 30 Juni 2016 disela kegiatan berlangsung di PLA Riau.

Perti menjelaskan, tidak hanya bagi tenaga terafis yang perlu mendapatkan pembekalan untuk ditingkatkan kompetensinya, karena semua tenaga yang berada di PLA harus bisa dan paham dengan baik dalam menghadapi anak-anak Autis ini.

"Ssecurity, misalnya ia juga harus bisa dan mengerti akan cara-cara membujuk anak-anak Autis ini ketika seumpama keluar dari gedung dan tidak mau masuk lagi, begitu juga dengan petugas cleaning service yang harus bisa memberi pendidikan kepada mereka bagaimana membuang sampah yang baik dans sebagainya," jelas Petri.

Melalui kegiatan yang menghadirkan Pakar Terapis dr Trigunadi, yang juga merupakan ahli psikologi, dan Dosen UI, diharapkan seluruh tenaga di PLA Riau bisa terus meningkat kompetensinya, sehingga bisa terus memebrikan pelayanan yang lebih baik kepada anak-anak Autis yang ada di PLA Riau.

Sementara Kepala PLA Riau Damrus menambahkan, keberadaan PLA Riau dalam mendidik anak-anak Autis ini hingga menjelang satu tahun sudah mulai menunjukkan hasil, dimana dua anak didik pada tahun ini ada yang masuk ke SD formal, yakni di SD Negeri dan swasta.

"Artinya dari hari kehari ada kemajuan yang diperoleh anak didik, karena itu jua jumlah orang tua yang mempercayakan PLA sebagai tempat untuk memberi pendidikan kepada anak mereka yang Autis juga cukup banyak, saat ini terdapat 36 orang peserta didik, dan sebanyak 20 orang masuk dalam daftar tunggu," jelas Damrus.

Selain itu, lanjutnya, sebanyak 170 orang juga tengah dilakukan asesmen. "Karena sistem mendidik anak Autis itu tidak bisa ditetapkan waktunya, bisa jadi Tiga atau Enam bulan jika sang anak dianggap sudah bisa berinteraksi dengan anak-anak lainnya, maka akan dilepas, untuk bisa disekolahkan di sekolah biasa," ujarnya mencontohkan.**(mad)