• H Mulyadi

KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Kota Bandung tahun 1955, membuka lembaran sejarah yang kemudian melahirkan adanya Kelompok Non-Blok (Non Align). KAA berlangsung pada tanggal 18 April 1955 dengan dihadiri 29 negara. KAA digagas oleh Presiden Soekarno dengan mitranya dari 5 negara. 

Yang menarik KAA terdiri dari negara-negara yang ada di Benua Asia dan Afrika. Ketika itu sejumlah negara ada yang masih di era penjajahan dan menuntut kemerdekaan. 

Kehadiran Negara Non-Blok, ikut mewarnai konstelasi politik dunia. Ketika itu persaingam negara-negara besar berada dalam naungan Blok Barat dan Blok Timur. Mereka menguasai pengaruh di berbagai wilayah. Apalagi diikuti dengan adanya persekutuan diantara negara-negara yang masuk dalam dua blok besar. Persaingan sangat tajam, apalagi dengan lahirnya beragam persenjataan dan persekutuan masing-masing blok yang saling bersaing. 

KAA berada diluar Blok Barat dan Timur, sehingga posisinya menjadi netral. menurut salah seorang pengamat militer, gagasan membentuk Kelompok Non-Blok ikut digagas oleh Wakil Presiden Bung Hatta. Dengan terjadinya persaingan dua blok raksasa di dunia, kehadiran Kelompok Non-Blok ikut memberi warna tersendiri. 
Blok Barat antara lain terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan lain-lain. Sedangkan Blok Timur berada dibawah kendali Uni Soviet sebelum negara tersebut terpisah. Ada pun pengikut-pengikut Blok Timur antara lain Uni Soviet, Polandia, Hungaria, Bulgaria dan lain-lain.

Melihat pertumbuhan dua blok yang saling bersaing, maka Kelompok Asia-Afrika menjadi alternatif, karena tidak berada didalam  Kelompok Barat dan Timur. Gerakan Non-Blok (GNB) telah berusia 62 tahun. Meskipun dalam perjalanannya mengalami keretakan. Misalnya antara Arab Saudi dengan Yaman. Akan tetapi semangat Gerakan Non-Blok (GNB) tidak padam. Guna memperingati hari ulang tahun Gerakan Non-Blok, ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik. 

Seperti posisi Indonesia dan beberapa negara lainnya tetap konsisten tidak mau masuk ke dalam salah satu blok. Salah satu tujuan membangun GNB adalah memperkokoh negara Palestina Merdeka yang bebas dari penjajahan. Presiden Soekarno ketika itu mengharapkan agar Palestina berdaulat dan merdeka dapat segera terwujud. Kendala paling utama adalah sikap Israel yang keras kepala. Negara Yahudi itu bersikukuh menduduki beberapa wilayah di daerah Palestina dan Yordania.  

Karena itu tanpa memberi kedaulatan dan kemerdekaan Palestina, sulit menciptakan suasana keharmonisan antara negara-negara Arab dan Israel. Karena itu campur tangan negara-negara barat dalam membantu Israel, Merupakan kendala besar yang hingga kini belum dapat diatasi. 

Menghadapai hari ulang tahun Konferensi Asia-Afrika pada tanggal 18 April 2017 diperlukan adanya kerja sama lingkungan negara-negara Non-Blok agar lebih kukuh. Sekedar catatan, Konferensi Asia -Afrika yang kemudian melahirkan Gerakan Non-Blok (GNB) berlangsung di Kota Bandung. 

Beberapa tokoh ketika itu antara lain Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Ghana Kwame Nkrumah dan Presiden Indonesia Soekarno.

Konferensi Asia-Afrika yang telah berusia 62 tahun merupakan catatan sejarah kebangkitan negara-negara Non-Blok. Apalagi sejumlah negara Non-Blok ketika itu masih berada dalam penjajahan Kolonialisme.***