Gaungriau.com (PASIR PENGARAYAN) -- Wakil Gubernur Riau (Wagubri) H.Edi Natar Nasution, sebagai pengagas seminar Menelusur Sejarah Marga Nasution dan Etnis Mandailing di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), digelar di Convention Hall Masjid Islamic Centre Rohul, Rabu 8 Januari 2020 sore kemarin.

Seminar yang mengupas sejarah asal-usul atau Tarombo Suku Batak Mandailing sangat penting, termasuk bagi keluarga besar marga Nasution.

Kegiatan otu, juga hadir Bupati Rohuk H.Sukiman, Sekda Abdul Haris Lubis, sejumlah Tokoh Adat dan Budaya,serta Tokoh Agama bermarga Nasution dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Riau. Juga dari pengurus Persatuan Marga Nasution Riau , moderator,para panelis,serta anak - kemenakan Marga Nasution.

Selain itu, juga hadir pejabat Forkopimda Rohul, sejumlah Pengurus Ormas/LSM Rohul, dna ratusan undangan lainya.

Dalam sambutan dan pembacaan sejarah Marga Nasution,Wagubri mengatakan, bahwa ada 4 (empat) versi sejarah Marga Nasution. Namun diantara ke- 4 versi tersebut,tiga versi dijelaskan secara singkat,sementara untuk versi ke-4 dijelaskan dan dibacakan secara mendetail di hadapan seluruh Undangan yang hadir.

"Ada 4 versi sejarah keturunan Marga Nasution yang Populer dan berkembang di tengah masyarakat. Versi pertama Tapanuli Utara dimana Marga Siahaan mengaku bahwa marga Nasution merupakan keturunan leluhur Mereka yang bernama Sibaroar yang merantau ke daerah Tapanuli Selatan. Versi kedua Minangkabau , dimana Sibaroar Konon berasal dari Kerajaan Minangkabau masih keturunan Bundo Kandung," kata Wagubri.

Lalu tambah Wagubri, versi Tapanuli Selatan menurut Marga Nasution yang berada di sana, mereka berasal dari Keturunan Raja Pulungan. Masa itu seorang Raja tidak boleh memiliki Istri lebih dari satu. Bila raja kawin lagi maka hanya dijadikan selir saja.

Dalam waktu yang bersamaan, permaisuri dan selir Raja Pulungan hamil. Lalu anak dari permaisuripun lahir dan tidak lama kemudian menyusul lahir lah anak dari selirnya.

"Kedua- duanya berjenis kelamin Laki-laki dan sangat mirip. Anak dari selir inilah yang bernama Sibaroar dan masih panjang ceritanya. Namun kami Marga Nasution yang berada di Rohul tidak mempercayai versi ini,karena tidak cukup bukti secara otenti,"

"Meskipun versi ini banyak diyakini saudara kita Nasution di Tapanuli Selatan. Terakhir versi Rambah Rohul, versi ini yang diyakini Marga Nasution di Rambah dan Kaiti, Rohul. Sebagai versi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena selain memiliki alur Kisah (Sejarah) yang runtun dari awal hingga akhir peristiwa, juga didukung bukti -bukti otentik seperti adanya Makam dari masing-masing tokoh yang dikisahkan,diantaranya tiga makam Raja Godang, yakni Jejak terakhir Kaki Suri Andung Jati atau Sutan Perempuan yang merupakan ibu kandung dari Sibaroar berada di Kaiti," ungkapnya.

Gubri juga mengatakan, sebenarnya makam tersebut adalah bekas telapak kaki dari Sutan Perempuan ketika untuk terakhir kalinya beliau berdiri di tempat itu untuk menyampaikan petuah ke semua anak dan cucunya sebelum beliau menghilang karena kesaktiannya.

Selanjutnya ada makam anak ke-6 dari Sibaroar yang bergelar Sutan Solut. Itu berada di Batang Samo berdekatan dengan makam istrinya. Juga ada makam anak ke - 7 dari Sibaroar bernama Raja Gompar di Huta Rimboru.

"Ini merupakan garis keturunan langsung dari Opung (Kakek),dan Ayah Kami.Saya generasi ke – 13," kata Edi Natar, saat membacakan sejarah.

Edi Natar juga menjelaskan, bahwa menurut Versi Rambah Rohul, Sibaroar adalah anak yang terkenal dengan kesaktiannya. Dari perkawinan antara Sutan Iskandar Muda Pitala Guru (gelar sutan penyalinan) dengan Suri Andung Jati(gelar Sutan perempuan ).Sutan Iskandar Muda adalah Keturunan dari Sutan Mahmud Syah kerajaan Irak,dan Sutan Mahmud Syah keturunan dari Sutan Harunnun Rasyid Kerajaan Baghdad,Irak di Jazirah Arab.

Sementara ibunya bernama Suri Andung Jati gelar Sutan Perempuan, keturunan dari Sutan Sinomba Sinoru berasal dari Kerajaan Kayangan Lumban Julu - Sumut

Pertemuan antara ayah dan Ibu Sibaroar ini awalnya di Tapian Nauli, Dolok Martimbang,Danau Toba.Singkat cerita,Edi Natar sangat bangga menyandang marga Nasution dimana datuk atau leluhurnya sudah hidup dan bermukim di Rambah Rohuk Sejak tahun 1450 M.

Raibnya Buku Laklak Atau Sejarah Marga Nasution

Tahun 1942 - 1945, sat itu Jepang membuat kebijakan agar semua buku-buku yang berbau agama harus dibakar atau dimusnahkan.Bila ketahuan masih ada yang menyimpan akan dihukum seberat-beratnya.

Sehingga akhirnya, buku buku Tarombo (silsilah) Laklak ukut terbakar. Meski beda versi, Gubri mengajak semuanya menyatukan perbedaan.

"Mari kita rajut persaudaraan di dalam keluarga besar Nasution. Mari kita sama-sama menjaga nama baik dan nama besar marga Nasution," imbau Edi Natar.**(lim)