TEMBILAHAN -- Sebagai Kabupaten terluas di Provinsi Riau, Kabupaten Indragiri Hilir menjadi daerah yang memiliki potensi dan menarik perhatian dari para investor,  khususnya untuk membangun perusahaan perkebunan kelapa sawit dan kelapa.

Sayangnya,  keberadaan perusahaan yang seyogyanya memberikan harapan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di Inhil justru memjadi bumerang. Alih-alih menguntungkan masyarakat, kedatangan perusahaan justru merugikan, begitulah yang dirasakan oleh masyarakat di Parit Mutiara, Dusun Muara Sabak, Desa Gembira, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir.

Asnan salah seorang warga setempat menuturkan bahwa  sebelum ada perusahaan, kebun kelapanya mampu menghasilkan 12 ribu biji pertrip (sekali panen biasanya sekitar 3 bulan sekali) .

"Sekarang cari 100 butir saja susah, masih banyak lagi punya masyatakat lain. Hampir 8000 rumpun pohon kelapa yang sudah hancur," tuturnya.

Namun, dikatakannya pihak perusahaan hingga saat ini tak kunjung bertanggungjawab. "Kehadiran perusahaan bukannya membawa kesejahtraan buat masyarakat malah membuat masyarakat sengsara," ucapnya.

Dia mengatakan bahwa masyarakat tidak berharap agar kebun kelapa mereka seperti awal. Karena, mereka menilai itu hanya sebagai mimpi.

"Minimal saat ini ada bantuan dari perusahaan agar ada modal kembali untuk membuka kebun. Karena, kami saudah tidak punya modal apa-apa lagi untuk membuka kebun," pungkasnya.**(suf)