• Aksi demo penolakan Ranperda Resi Gudang oleh elemen mahasiswa beberapa waktu.

TEMBILAHAN - Permasalahan yang menimpa sektor perkebunan di Inhil terutama kelapa sangat komplek. Untuk mengurai itu semua, kita harus mengkajinya secara utuh dan Sistematis.

Saat ini ada dua persoalan yang harus diselesaikan. Pertama persolan hulu yang menyangkut tingkat produktivitas buah. Belakangan produksi kelapa Inhil turun sampai 50 persen bila di bandingkan dengan 20-30 tahun yang lalu.

Menurut Dedek Pratama, Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonedia (GMNI) Inhil kepada media ini mengungkapkan, paling tidak ada empat penyebab utama, salah satunya dikarenakan intrusi air laut. Dimana hampir di seluruh kecamatan wilayah pesisir, tingkat kerusakan lahan perkebunan kelapa berkisar di angka 20-40 persen. Untuk menyelamatkan itu dibutuhkan pengembangan dan normalisasi tanggul yang sangat panjang.

Persoalan kedua serangan hama. Semenjak banyak perusahaan sawit dan kayu beroperasi di Inhil, serangan hama seakan jadi momok kedua penyebab kerusakan lahan perkebunan.

"Hal itu dikarenakan habitat mereka habis dikarenakan penebangan hutan. Sehingga konflik antara masyarakat dan perusahaan sering terjadi karena persoalan ini," katanya.

Ia menambahkan, persoalan lainnya adalah lahan kritis. Hal itu disebabkan usia perkebunan yang sudah tua. Tampa peremajaan, jangan mimpi Inhil mampu meningkatkan produktivitas kelapa.