• Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman dan isteri disambut atraksi Pencak Silat saat menghadiri Budaya Mandi Shafar Pulau Rupat, kabupaten Bengkalis.

PEKANBARU -- Letak Provinsi Riau yang strategis, bertetangga dengan Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki keindahan alam dan kental dengan budaya Melayu akan semakin memudahkan bagi Riau untuk merangkai pariwisata.  Rangkaian ini bisa disambung hingga akhirnya terpaut ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman menyebut, Riau memiliki akses mudah menuju negara jiran seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan beberapa maskapai penerbangan, menyediakan rute langsung dengan biaya murah. "Ini jelas menguntungkan para traveller manca negara untuk bisa berkunjung ke Riau," kata Gubernur yang akrap disapa Andi Rachman tersebut.

Gubri juga menyebut, sisi lain yang menguntungkan dalam upaya menunjang tumbuhnya pariwisata di Riau, yakni posisi Riau sebagai salah satu provinsi di Sumatera yang perekonomiannya terus tumbuh.  Dengan realita ini, menjadikan Riau tujuan bagi para pelaku usaha melakukan ekspansi usaha.

“Berkaca dari kelebihan dan kemudahan akses menuju Riau, tak salah apabila Pemprov Riau membidik sektor pariwisata untuk menambah sumber pendapatan daerah, terutama mengembangkan pariwisata berbasis budaya,” kata Gubri.

Disamping itu, untuk menjadikan Riau sebagai pusat wisata berbasis budaya tersebut, Gubri menyebut kalau Riau bisa menjadikan Mandi Shafar di Bengkalis, Istana Siak, Candi Muara Takus, ivent Bakar Tongkang, Pacu Jalur Kuansing dan sebagianya untuk terus dikembangkan. 
Untuk mengangkat pariwisata berbasis budaya ini, bukanlah hal yang mudah, diperlukan kerja sama yang solid dari berbagai kalangan, baik para pemikir, budaya, akademisi, budayawan, seniman dan masyarakat, sehingga basis ini semakin  kuat. Selain itu mempromosikan aktivitas budaya di tanah ini harus genjar dilakukan.

Andi Rachman juga menjelaskan kalau Provinsi Riau didukung oleh berbagai fakta kesejarahan. Di kawasan ini sampai sekarang hidup sejumlah suku asli (Sakai, Bonai, Akit, Hutan, Petalangan, Talang Mamak, Duano, dan lain-lain), dan masyarakat adat seperti rantau nan kurang oso duo puluo di Kuantan, masyarakat limo koto dan tigo baleh koto di Kampar, dan lain-lain.

Sejumlah peninggalan sejarah seperti candi dan artefak lainnya. yang ditemukan memberi petunjuk pula tentang kewujudan kebudayaan dan peradaban kuno di kawasan ini, mulai dari pra-sejarah hingga ke periode Hindu dan Budha.

Di pinggir empat sungai besar dan anak-anak sungainya yang membelah kawasan ini, selama berabad-abad pernah bertapak sejumlah kerajaan, seperti Gasib (kemudian Siak Sri Inderapura), Kampar (dan Pelalawan dan Gunung Sahilan), Rokan (dan Kunto Darussalam, Tambusai, Rambah, serta Kepenuhan), dan Kerajaan Keritang, Inderagiri, serta Kandis.

Meski memiliki potensi yang cukup besar tersebut, Andi Rachman mengaku kalau dukungan berbagai pihak sangat diharapkan dalam mewujudkan hal itu, karena itulah Riau saat ini gencar melakukan berbagai promosi keberadaan wisata ini, baik ditingkat nasional, maupun sampai ditingkat internasional.

“Kita harus optimis. Wisata kita tidak kalah dengan negara lainnya. Riau memiliki keunggulan di sektor pariwisata berbasis kebudayaan. Kita hanya perlu memasarkannya,” ungkapnya.

Terlebih, lajut Gubri, Riau telah mengumandangkan jargon Riau the Homeland of Melayu. Ini menandakan bahwa Riau sudah menasbihkan bahwa ini merupakan daerah tumpah darah Melayu. Di negeri inilah lahir dan tumbuh berkembangnya Melayu dalam segala sendi geraknya.

Konsekuensinya, jargon ini akan menjadi alas pijak bagi pembangunan berbagai sektor di Riau. Apapun rencana besar pembangunan di Riau tak lagi bisa lari dari Melayu sebagai puak tua yang tumbuh dan berkembang serta telah bersebati dengan negeri ini.**(adv/humas)