• ilustrasi

PEKANBARU -- Dalam tiga bulan terakhir, aksi bom molotov di ibu kota Pekanbaru mulai membuat resah. Sudah terjadi 6 kali aksi teror tersebut, namun belum satupun yang dapat terungkap oleh pihak kepolisian. Selaku lembaga yang ditugaskan memberikan rasa aman bagi masyrakat pun dipertanyakan, dan diminta untuk segera mengungkap pelakuknya.

Pakar Kriminolog Riau, Kasmanto Rinaldi MSi kepada wartawan, Kamis 27 Oktober 2016 menjelaskan, aksi teror yang terjadi belakangan terakhir diduga memang sengaja dibuat oleh pelaku dengan tujuan untuk menimbulkan keresahan di masyarakat.

"Secara ontology memang aksi teror ini membuat masyarakat takut dan resah, kepada kepolisian kita minta dapat bertindak serius menanganinya," ucapnya.

Dia menyebutkan, tujuan teror ini, dari pelaku hanya untuk menimbulkan fear (rasa takut, red). Dan bentuk-bentuk teror tidak hanya molotov tetapi dengan isu negatif juga bisa.

Menurut Wakil Dekan Tiga Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Islam Riau ini juga menjelaskan, dalam hal aksi teror dilakukan pelaku belakangan terakhir dan beredar luasnya informasi negative. Bisa dijadikan sebagai bukti petunjuk untuk pihak Kepolisian dengan melihat penyebaran isu di media sosial yang menyangkut pihak yang menjadi sasaran dari bom molotof.

"Dari situ bisa terlihat siapa saja berhubungan antara isu berkembang dengan runtututan kejadiaan saat ini," ungkapnya.

Selain itu, dia mengimbau, bagi masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi dengan atas kejadian yang terjadi. jika menyangkut kebencian terhadap salah satu kelompok orang, seseorang atau golongan tertentu. "Jangan mudah terprovokasi,’’ harapnya.