Gaungriau.com -- Krisis air bersih yang telah melumpuhkan aktivitas warga dan pelaku usaha di Kabupaten Bengkalis selama dua pekan terakhir memuncak dalam rapat pemanggilan manajemen Perumda Air Minum Tirta Terubuk oleh DPRD Bengkalis, Selasa 12 Agustus 2025.
Namun, Direktur PDAM Abel Iqbal kembali tak hadir untuk kedua kalinya. Alasannya, dinas ke Jakarta dan tidak bisa diwakilkan. Sikap ini memicu kemarahan pimpinan rapat, Wakil Ketua DPRD Bengkalis Hendrik Firnanda Pangaribuan, bersama Ketua Komisi II Yong Sanusi.
“Kalau minggu depan dia mangkir lagi, kami akan rekomendasikan bupati untuk mencopot Abel Iqbal,” tegas Hendrik, Rabu 13 Agustus 2025.
Dalam rapat terungkap kondisi memprihatinkan: kedalaman waduk PDAM Bengkalis yang seharusnya 8 meter kini hanya 2 meter. Akibatnya, cadangan air hanya bertahan 5 hari, jauh dari klaim manajemen yang menyebut bisa 18 hari. Padahal, jika sesuai standar 8 meter, pasokan bisa cukup untuk 47 hari.
“Masak mereka hanya mengandalkan hujan? Waduk ini kan harus dirawat, bukan dibiarkan dangkal,” sindir Hendrik.
Ia mengimbau warga bersabar karena distribusi air bersih saat ini terhenti total. “Bupati pun merasakan hal yang sama. Ini kita rasakan bersama,” tambahnya.
Usaha Lumpuh, Kerugian Menggunung
Krisis ini tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pada sektor bisnis.
Adef Adi, pemilik usaha air galon, mengalami kerugian antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta setiap hari sejak awal Agustus. Ironisnya, tagihan PDAM naik dari Rp1,5 juta jadi Rp4–5 juta.
Sabri, yang mengelola warung, harus beli 10 galon air setiap hari untuk mencuci peralatan makan, sementara pendapatannya menurun.
Pemilik doorsmeer di Jalan Ahmad Yani menolak pelanggan karena tidak ada air, rugi hingga belasan juta rupiah.
“Bayar pajak tetap, tagihan PDAM tetap, tapi air tidak mengalir. Ini menghambat investasi,” keluh salah satu pengusaha.
Kepala Bagian Teknik PDAM, Hary Kumbara, mengakui produksi dihentikan sejak Jumat lalu akibat keterbatasan air baku. Waduk utama masih berisi, namun keruh seperti kopi susu sehingga teknologi nano filter tidak bisa digunakan.
PDAM terpaksa beralih ke pengolahan konvensional dengan bahan kimia dan peralatan lama. Jika lancar, Kamis produksi bisa berjalan lagi, tapi hanya 30 liter per detik—jauh di bawah kapasitas normal 80 liter per detik.
Hendrik menegaskan DPRD akan mengawasi ketat penanganan krisis ini. “Kami yakin laporan ke bupati selalu indah, padahal di lapangan masyarakat dan pengusaha menjerit,” ujarnya.
Krisis air ini kini menjadi ujian besar bagi Pemkab Bengkalis dan PDAM. Tanpa langkah cepat dan nyata, dampaknya akan meluas, menekan perekonomian, dan mengancam kesehatan warga. (put)















