Gaungriau.com– Keberhasilan audit internal perguruan tinggi tidak diukur dari banyaknya temuan, melainkan kualitas perbaikan yang dihasilkan. Pesan tegas itu disampaikan Prof. Mahfud Sholihin dalam Workshop dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Konsorsium Internal Audit Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (IA-PTMA) se-Indonesia di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI).
“Ukuran keberhasilan bukan banyaknya temuan, tetapi kualitas perbaikan yang terjadi,” tutur Mahfud Sholihin, Kamis 29 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya perubahan paradigma audit internal, dari sekadar mencari kesalahan menjadi instrumen strategis untuk memperbaiki tata kelola, memperkuat pengendalian, dan menjaga keberlanjutan perguruan tinggi.
Mahfud yang menjabat Wakil Ketua III Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah sekaligus Ketua Lembaga Pembina dan Pengawas Keuangan (LPPK) PP Muhammadiyah itu menjadi salah satu narasumber utama dalam kegiatan yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 tersebut.
Dalam pemaparannya, ia menguraikan lima aspek yang mengubah lanskap risiko perguruan tinggi, yakni keberlanjutan finansial, digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), kompleksitas regulasi, risiko reputasi, serta daya saing institusi.
Menurutnya, berbagai tantangan tersebut menuntut perguruan tinggi memiliki sistem pengawasan internal yang semakin adaptif dan mampu memberikan nilai tambah bagi institusi.
Karena itu, pimpinan perguruan tinggi perlu menempatkan Satuan Pengawas Internal (SPI) sebagai mitra strategis, bukan semata-mata sebagai pemeriksa administrasi dan keuangan.
Workshop dan Rakornas IA-PTMA ini dibuka secara resmi oleh Rektor UMRI Dr. Saidul Amin, M.A. Kegiatan ini diikuti 72 peserta, termasuk dua rektor dan 14 wakil rektor, serta pengelola SPI dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.
Saidul Amin menegaskan, audit internal memiliki peran fundamental dalam menjaga integritas, aset, dan tanggung jawab moral pimpinan perguruan tinggi.
“Keberadaan audit ini sangat penting bagi PTMA. Ini merupakan urat nadi keselamatan dunia dan akhirat bagi kami para rektor,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti perkembangan teknologi audit dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman sebagai landasan tata kelola PTMA.
Ketua Konsorsium IA-PTMA, Dr. Banu Witono, S.E., M.Si., Ak., CA., menekankan bahwa SPI harus menjadi mitra strategis pimpinan dalam membangun tata kelola keuangan yang sehat, transparan, dan akuntabel.
Menurutnya, rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan ini harus diterapkan secara nyata di masing-masing perguruan tinggi, termasuk melalui pemanfaatan teknologi dalam penyusunan dan penyampaian laporan keuangan.
Sementara, Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua SPI UMRI, Dr. Zul Azmi, S.E., M.Si., Ak., CA., CSRS., CSRA., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi auditor internal dalam mengidentifikasi risiko, memperkuat pengendalian, serta memberikan rekomendasi strategis kepada pimpinan.
Selain Mahfud Sholihin, workshop menghadirkan sejumlah narasumber yang berpengalaman di bidang audit internal, pengawasan keuangan, perpajakan, dan tata kelola perguruan tinggi.
Melalui kegiatan ini, UMRI berharap profesionalisme auditor internal semakin meningkat, kualitas pelaporan keuangan semakin baik, dan sistem pengawasan di lingkungan PTMA semakin kuat.
Dengan demikian, audit internal tidak berhenti pada temuan, tetapi menjadi penggerak perbaikan berkelanjutan bagi tata kelola dan mutu perguruan tinggi.(mad)

























