BAGANSIAPIAPI -- Permasalahan dunia pendidikan di kabupaten Rokan Hilir (Rohil) tak terlepas dari faktor tak berimbangnya jumlah guru yang ada di daerah pedesaan dibandingkan pusat perkotaan sehingga kualitas pendidikan pun tak merata.

Hal ini menimbulkan keprihatinan dari sekretaris komisi D DPRD Rohil, Hj Suryati. Menurut mantan pendidik ini persoalan keberadaan guru yang tak merata membuat proses pendidikan pun terganggu.

"Di satu wilayah ada yang tenaga pendidiknya banyak tapi di satu sisi malahan ada yang kekurangan guru," ujar Suryati, Senin 9 Nopember 2015 di Bagansiapiapi. 
Sebagai dewan yang berada di komisi membawahi juga bidang Pendidikan, berbagai informasi yang telah dirangkumnya diketahui persoalan pemerataan ini terjadi di sejumlah kecamatan. Rendahnya hasil UN yang diperoleh Rohil kemarin menunjukkan kondisi pendidikan yang perlu dibenahi," ujarnya.

Padahal jumlah guru atau tenaga pengajar di berbagai tingkatan di Rohil lebih dari 11.000 orang. Jumlah tersebut merupakan terbilang besar untu ukuran kabupaten kota di Riau. Sayangnya ternyata tidak berdampak pada pencapaian angka atau prestasi di bidang pendidikan. 

"Jadi apa masalahanya, di mana letak kekurangan perlu ditelusuri secara bersama-sama, kami telah melakukan hearing dengan pihak terkait seperti Disdik, plt sekdab, dan BKD hasilnya dalam waktu dekat akan dilakukan kebijakan untuk rotasi tenaga pengajar sehingga tidak terkesan menumpuk di satu wilayah saja," katanya.

Dirinya yakin jika tenaga pendidik telah merata maka materi yang diperoleh oleh pelajar dapat tercapai dan sama dengan proses pendidikan yang ada di perkotaan. "Kami juga menghimbau semua pihak terutama di daerah yang pesisir, kalau ada kekurangan guru segera sampaikan ke instansi terkait ataupun komidi D, kami akan bantu untuk solusinya," kata Suryati.**(Adv/Us)