Gaungriau.com (PEKANBARU ) -- Petugas dari Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Provinsi Riau, mengindikasi kalau Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BRPS) dijadikan pesta narkoba. Ini diketahui saat tim melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke terminal terbesar di Riau beberapa waktu lalu.

Kepala Balai Pengelolaan Transportasi Darat,Provinsi Riau Ajie Panatagama mengatakan dalam sidak ini ditemukan plastik bening yang diduga untuk pembungkus sabu dan alat hiap sabu (bong).

"Hasil temuan diterminal AKAP iti kita temukan banyak platik sabu,"ucap Ajie saat sosialisasi PP nomor 85 Tahun 2018 di Hotel Grand Central Pekanbaru Selasa 19 Maret 2019.

Dalam acara sosialisasi itu dihadiri oleh puluhan pengusaha transportasi darat di Riau. Adanya temuan itu dia temuan itu ditindak lanjuti. Ajie berharap tidak ada lagi pengguaaan narkoba di tempat umum.

Saya intruksikan Kasat BRPS tidak melakukan pembiaran dan segera melakukan pembenahan terkait temuan itu. Kita minta mereka melakukan pembenahan. Jika terkena pasal pembiaran maka itu berada di kaki Pak Kasat bukan berada lagi di kaki Kepala UPTD," tegasnya.

Dia menjelaskan, sidak dilakukan karena rencananya BPTD Riau akan mengembangkan Terminal BRPS Pekanbaru. Yaitu dengan program Cipta Sapta Pesona. Di mana, nantinya beberapa fasilitas akan ditambah untuk kenyamanan dan keamanan penumpang angkutan umum darat.

"Dalam waktu dekat akan menyediakan semua kebutuhan pengemudi, pengusaha jasa PO dan masyarakat. Selain itu, menyediakan ruang istirahat bagi pengemudi, taman bermain anak karena banyak pengunjung dan mengantar anak. Kondisi sarana dan prasarana akan dibenahi," ucapnya.

Hal itu dilakukan untuk mencapai target yang diberikan oleh Menteri Perhubungan. Di mana, angkutan umum darat terutama bus harus mampu bersaing dengan angkutan lainnya.

"Terminal harus mencapai suatu target. Jangan sampai terminal kalah dari bandara, nanti juga akan diberlakukan sistem X Ray," pungkasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa terminal AKAP saat ini terus dibenahi terutama bus yang enggan masuk. Dinas Perhubungan Darat saat ini terus menggencarkan razia agar bus yang selama ini bandal bisa tertib.

"Sebelumnya paling hanya 20 persen bus tidak masuk terminal. Sekarang sudah 100 persen, semua wajib masuk terminal. Jika ada bus yang tidak terminal akan diberi sanksi," tegasnya.**(nat)