Gaungriau.com (PEKANBARU) -- Konflik manusia dan buaya dalam beberapa bulan ini mulai terjadi di Sungai Kuantan di Wilayah Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuansing, Riau. Seorang warga beberapa waktu lalu diterkam hewan reptil itu. Warga pun membalas dengan menangkap hewan dilindungi tersebut.

Menurut warga, adanya konflik dalam sebulan terkhir diduga karena rutinitas yang sudah lama tidak dilakukan. Warga mengaku selama ini memang sering memberi sesajen atau sesembahan kepada penghuni Sungai Kuantan.

"Kalau warga biasanya memberi sesajen setiap tahun ke sungai. Sesajennya berupa ayam yang dihanyutkan di sungai Kuantan. Namun tahun ini saya lihat memang tidak ada kegiatan itu," kata Jeprianto warga Cerenti Kamis 25 Juli 2019.

Ayam yang diberikan ke sungai untuk buaya itu ada yang sudah diolah ada juga yang masih hidup. Ritual tahunan ini dipercaya warga bisa menjalin 'persahabatan' dengan buaya.

"Selama ini banyak warga bertemu buaya, namun tidak diserang. Tapi terakhir ada satu warga yang diserang. Ini mungkin ada kaitannya dengan tidak ada ritual yang bisa dilakukan di awal maupun pertengahan tahun," imbuh Suyadi warga lainnya.

Sementara itu Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Andri Hansen Siregar mengakui selama ini warga dan buaya hidup 'berdampingan' sudah sangat lama. Tidak ada warga yang diserang buaya, maupun sebaliknya, warga berburu buaya.

"Memang ada kepercayaan warga berupa spritual yang dilakukan setiap tahunnya. Warga selalu memberi sesajen, berika ayam hidup maupun ayam yang sudah dimasak. Saat warga memberi sesembahan, memang buaya datang dan menyantapnya. Memang tahun ini, warga memamg belum ada persembahan ke Sungai Kuantan. Apakah ada hubungan atau tidak pemberian sesajen tahun ini ke Sungai Kuantan, itu kita tidak tau. Tapu yang jelas itu keperyaan warga. Kapolsek Cerenti juga sudah kita kordinasi memang ada ritual seperti itu," imbuhnya.

Namun terkait perburuan buaya di Sungai Kuantan, BBKSDA menegaskan itu hal yang melanggar hukum. Buaya merupakan satwa yang dilindungi. Jikapun ingin mengavakuasi warga harus melakukan kordinasi dengan pihak BBKSDA.

"Kita sangat sayangkan aksi warga kemarin kepada salah satu buaya di Sungai Kuantan itu. Warga menangkapnya dan mengaraknya keliling desa. Akibatnya buaya yang ditangkap warga mati. Buaya mengalami dehidrasi. Tubuh buaya selalu perlu air. Lagian buaya yang ditangkap itu belum tentu yang menyerang warga beberapa waktu lalu, Di sana banyak buaya," imbuhnya.

Untuk menangani buaya, bukan pekerjaan mudah. Apalagi lokasi penangkapan buaya memang wilayah buaya."Lagian di sana memang habitat buaya. Wargapun sudah tau itu. Di lokasi penerkaman warga, masih ada dua lagi buaya yang ukurannya cukup besar. Kita meminta itu tidak ditangkap. Sepanjang aliran Sungai Kuantan memang banyak buaya. Kuncinya jangan beraktivitas di dalam sungai,"pintaya.

Seperti diketahui pihak kepolisian kemarin menerima seekor buaya muara dengan panjang 3 meter. Namun saat diserahkan, buaya dewasa betina itu sudah dalam keadaan mati.

"Alasan warga, penangkapan buaya karena sering muncul kepermukaan dan pernah sekali menerkam warga. Namun warga yang diterkam beberapa waktu lalu selamat," ucap Kapolres Kuansing AKBP Muhammad Mustofa.**(nat)