Gaungriua.com -- Bertempat di ruang seminar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak), Kamis 21 November 2024, Pusat Studi Melayu FIB Unilak menaja Kajian Rutin yang mengusung topik "Pemanfaatan AI dalam Penelusuran Referensi Ilmiah untuk Penelitian". Acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat diintegrasikan dalam proses penelusuran referensi ilmiah, yang merupakan salah satu aspek krusial dalam dunia penelitian.

Sebagai narasumber, Eko Noprianto, S.IP., M.A, Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan Unilak, hadir untuk membagikan pengetahuannya. Dalam pemaparannya, Eko menjelaskan bahwa pemanfaatan AI untuk penelusuran referensi ilmiah tidak hanya mempercepat proses pencarian, tetapi juga meningkatkan akurasi dan relevansi informasi yang ditemukan. Dengan algoritma canggih yang ada, AI mampu menganalisis data dalam jumlah besar dan menyajikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Namun, Eko menekankan bahwa AI pada dasarnya hanyalah sebagai Alat Bantu. Walaupun AI menawarkan efisiensi waktu, sebagai pengguna tidak boleh serta merta menggantungkan semuanya pada AI.

Bertindak sebagai moderator acara, Elysa Elvania, S.Pd., M.Pd. Kepiawaiannya menyelipkan substansi kajian lewat bait-bait pantun membuat suasana menjadi menarik. Elysa menekankan pentingnya pemahaman yang baik mengenai teknologi AI, terutama bagi mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam penelitian. "Di era digital ini, kita tidak bisa mengabaikan peran teknologi dalam membantu kita menemukan informasi yang tepat dan relevan," ujarnya.

Turut hadir dalam acara tersebut mahasiswa FIB Unilak beserta dosen. Pemaparan dari narsumber disertai dengan praktek langsung penelusuran referensi ilmiah dengan memanfaatkan beberapa platform AI. Terdapat empat platform AI yang diperkenalkan oleh narasumber. Open Knowledges Maps, Connected Papers, Lipmaps dan SciSpace. Keempat platform tersebut memungkinkan pengguna untuk mencari dan mengorganisir referensi dengan lebih efisien. "Kita harus bijak dalam memilih dan menggunakan alat-alat ini agar hasil penelitian kita semakin berkualitas," tambahnya.

Di akhir sesi, Eko memberikan beberapa rekomendasi bagi peserta untuk terus belajar dan mengeksplorasi alat-alat berbasis AI yang ada. Dia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya bergantung pada satu sumber informasi, tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan kritis dalam mengevaluasi referensi yang ditemukan.

Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis, di mana peserta mendapatkan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut dan mendiskusikan ide-ide yang muncul selama seminar. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, diharapkan pemanfaatan AI untuk penelusuran referensi ilmiah dapat menjadi bagian integral dari proses penelitian di Unilak, serta mendorong mahasiswa untuk semakin aktif dalam dunia akademik dan riset.

Secara keseluruhan, Kajian Rutin yang diadakan oleh Pusat Studi Melayu FIB Unilak ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga membuka wawasan tentang pentingnya teknologi dalam mendukung penelitian ilmiah. Dengan pemanfaatan AI yang tepat, diharapkan penelitian yang dihasilkan akan lebih berkualitas dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.l