PEKANBARU -- Persoalan kabut asap yang melanda Provinsi Riau kurun waktu dua bulan terakhir telah mendapat perhatian dari berbagai pihak, tak terkecuali Universitas Muhamadiyah Riau (UMRI). Meski diwilayah Riau tidak ditemukan titik api beberapa hari tekahir, kabut asap masih saja terjadi.

Untuk itu lah, Jum'at 2 Oktober 2015, UMRI mengadakan diskusi, yang mengambil tempat di Masjid Baitul Hikmah, kampus II UMRI, jalan Tuanku Tambusai ujung, tepatnya disamping Mall SKA Pekanbaru. Setelah acara diskusi dilanjutkan  shalat Jumat perdana dimasjid itu bersama para pejabat yang hadir.

Sejumlah pejabat Tinggi di Provinsi Riau hadir dalam kegiatan tersebut, seperti Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau H Arsyadjualiandi Rachman, Danrem 031/WB Brigjen TNI Nurendi, MSi, Danlanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Kolonel Pnb Henri Alfiandi, Kapolda Riau  Brigjen Dolly Bambang Hermawan, Mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit dan Wan Abu Bakar, mantan Walikota PEkanbaru Herman Abdullah, para Civitas Akademika UMRI dan undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Plt Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Racman menyebut kalau dalam penanganan kabut asap di Provinsi Riau ini, berbagai hal telah dilakukan, mulai dari melakukan penyiraman api melalui udara, melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC), hingga melakukan pemadaman melalui darat.

"Semua itu dilakukan, dengan satu tujuan yakni menghilangkan kabut asap dinegeri kita ini," kata Plt Gubernur.

Hanya saja, meski dalam beberapa hari terakhir untuk wilayah Riau zero atau nol titik api, namun kabut asap masih saja terjadi."Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) titik api terbanyak hari ini berada di Sumatra Selatan dengan jumlah titik api sebanyak 600 lebih, di Jambi sebanyak 32 titik dan di Riau hanya 1 titik api," jelasnya.

Lalu, kondisi kabut asap yang terjadi saat ini menurut Plt Gubernur adalah kiriman, berdasarkan data yang dirangkum terjadinya angin selatan menuju utara sehingga kabut asap kuat terjadi di Riau tidak terkecuali di Pekabaru.