Kepala BPS Provinsi Riau Aden Gultom menjelaskan, dari 3 kota IHK di provinsi Riau, dua kota mengalami deflasi, yakni Pekanbaru 0,60 persen, dan Tembilahan 0,14 persen, sedangkan kota Dumai mengalami inflasi sebesar 1,12 persen.
"Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga pada dua kelompok pengeluaran, yakni kelompok bahan makanan sebesar 2,08 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,68 persen," terang Aden, Selasa 1 Maret 2017 Gedung BPS Provinsi Riau Jalan Pattimura.
Sedangkan, lanjut Kepala BPS, kelompok lainnya mengalami inflasi atau kenaikan harga yakni kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,98 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,47 persen, kelompok sandang sebesar 0,43 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,16 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,06 persen.
"Komoditas yang memberikan andil terjadinya deflasi di Riau antara lain, cabe merah, daging, ayam ras, tarif pulsa ponsel, cabai hijau, ayam hidup, petai, kol putih, daging sapi, telur ayam ras dan lain sebagainya. Sementara itu komoditas penyumbang inflasi antara lain tarif listrik, udang basah, ikan serai, bayam, ikan nila, apel, ikan mujair, ikan tongkol, emas perhiasan, minyak goreng," terang Aden.
Berdasarkan perhitungan IHK 23 kota di Pulau Sumatera, sebanyak 13 kota mengalami deflasi, dengan deflasi tertinggi terjadi di kota Jambi sebesar 1,40 persen, diikuti Sibolga sebesar 1,34 persen, dan Pangkal Pinang sebesar 1,11 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di kota Bungo sebesar 0,02 persen.
"Inflasi tertinggi terjadi di kota Dumai sebesar 1,12 persen, dan terendah di kota Palembang sebesar 0,09 persen," terang Aden.






















