"Kalau melihat kondisinya seperti sekarang ini (kabut asap ekstrim), no oksigen, no pendidikan, ekonomi lumpuh, kesannya sudah tidak ramah, Pekanbaru sudah tidak layak huni lagi," keluh Rahayu warga Sukajadi, Pekanbaru kepada media ini, Kamis 22 Oktober 2015.
Dia juga menyanyangkan, sikap dan perhatian pemerintah pusat dinilai nihil, malah menganggap kabut asap yang terjadi saat ini hal biasa. "Harus menunggu berapa lagi yang mati karena asap ini, Pemerintah Pusat tak mampu berbuat. Maka Pemerintah Daerah harus bersikap tegaslah, lihat penderitaan rakyat mu," ujarnya.
Sepanjang kondisi bencana kabut asap ini, pendidikan di Pekanbaru pun tidak jelas. Pemerintah Kota (Pemko) pun tidak mempunyai sikap tegas. Kondisi udara di level berbahaya pun masih memaksa anak-anak sekolah. Padahal ini sangat berdampak pada kemudian hari.
Seperti disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Ir Nofrizal MM, soal pendidikan yang tidak jelas masuknya. Dan juga dinilai tidak memikirkan kesehatan anak didik.
"Untuk itu, Jumat 23 Oktober 2015 usai shalat Jumat, kami panggil hearing Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Kesehatan (Diskes) dan juga Badan Lingkungan Hidup (BLH)," kata Nofrizal.
Secara tidak langsung, Nofrizal juga menyebutkan, dengan kondisi kabut asap di level berbahaya ini, Pekanbaru sudah tidak aman untuk kesehatan.









