PEKANBARU -- Provinsi Riau yang dikenal sebagai daerah dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) nya, sudah saatnya tidak lagi terus bergantung kepada bidang Pertambangan Minyak dan Gas (Migas), sudah saatnya Riau bisa fokus pada pengembangan objek wisata.

"Provinsi Riau ini kaya akan berbagai potensi wisata, baik itu wisata alam, maupun wisata lainya. Jika itu dikembangkan, maka Riau tidak akan kalah dengan Provinsi-Provinsi lainnya yang mengandalkan objek wisata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Riau, Fahmizal Usman, dihadapan para wartawan dari media online di Pekanbaru, Selasa 29 Desember 2015 di kantornya.

Fahmi memaparkan, Delapan bulan menjabat sebagai Kepala Dinas, dirinya telah melakukan pemantauan terhadap sejumlah objek wisata yang ada di Provinsi Riau, bersama dengan tim, mereka melakukan pendataan terhadap objek-objek wisata yang layak dan harus dikembangkan di Provinsi Riau.

"Dari kunjungan yang kita lakukan, cukup banyak potensi wisata yang ada di Riau ini yang pantas untuk dikembangkan, wisata Air terjun saja jumlahnya mencapai 20 tempat di Riau ini, belum lagi wisata-wisata lainnya," kata Fahmi.

Hanya saja, menurut Fahmi untuk bisa mengembangkan berbagai objek wisata tersebut, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri, perlu dukungan dari Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) lainnya, karena Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hanya sebatas melakukan promosi.

Sementara untuk penyediaan infrastruktur, baik itu menuju lokasi pariwisata, ataupun diareal objek wisata, dan juga untuk dukungan dari masyarakat, itu harus dilakukan oleh SKPD lain.

"kalau untuk infrastruktur itu berada di Dinas Bina Marga dan juga Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air, untuk pengembangan ekonomi masyarakat ada di dinas Komperasi, dan bidang-bidang lainya, karena untuk pengembangan wisata ini kita memerlukan dukungan berbagai pihak," tegas mantan Kepala Biro Humas Setdaprov Riau ini.

Dukungan dari Kabupaten dan Kota sebagai lokasi objek wisata menurut Fahmi juga sangat diperlukan, terutama oleh masyarakat sekitar objek wisata. Dalam jiwa masyarakat harus tertanam jiwa untuk menghargai dan menghormati para pengunjung, karena dengan kunjungan mereka, akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat disekitar objek wisata. 

"Masyarakat kita harus ditanamkan kalau keberadaan objek wisata itu akan menguntungkan mereka secara ekonomi, apakah itu mereka dengan menjual makanan dan sebagainya. Jangan pula ketika ada yang berkunjung, masyarakat menunjukkan sikap tidak bersahabat, seperti memungut tarif parkir yang tidak sesuai dengan aturannya, ataupun melakukan hal-hal yang tidak membuat pengunjung menjadi tidak betah, skali lagi, semua pihak harus bersama-sama membangun pariwisata Riau ini," ungkapnya. 

Pada acara yang dikemas dalam bentuk Coffie Morning tersebut, selain dihadiri puluhan wartawan, juga ikut dihadiri sejumlah pejabat esselon dilingkungan dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Riau, Ketua ASITA dan lainnya.**(mad)