Gaungriau.com -- Bertema From Muhammadiyah to the World, dalam rangka Milad ke-16, Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) gelar Southeast Asian Scholars Forum yang dihadiri pimpinan perguruan tinggi Islam dari beberapa negara di Asia Tenggara, Ahad 23 Juni 2024 malam.

Para Akademisi luar yang hadir di antaranya, Assoc Prof Dr Ahmad ar Chapakia yang merupakan Wakil Rektor International Relations Affairs, Fatoni University, Thailand, H.E. Dr Hosen Mohamad Farid yang merupakan President of Cambodia University of Management and Technology.

Lalu, Dr Hasna L Lidosan PhD dari Cotabato State University, Filipina. Hadir juga Dean of Muhammadiyah Islamic College Singapore, Dr Saifuddin Amin. Kemudian, Dr Mohd. Iqbal Bin Abdul Wahab dari International Islamic University Malaysia. Sarasehan ini dimoderatori oleh Dr Dwi Santoso dari Universiti Muhammadiyah Malaysia.

Sementara, Prof Dr Ir Gunawan Budiyanto MP, IPM, ASEAN.Eng yang merupakan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) hadir mewakili Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir turut hadir dalam kegiatan itu. Hadir pula Prof Achmad Jainuri PhD dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, dan sejumlah petinggi PTMA di Indonesia.

Kemudian, hadir juga sivitas akademika UMRI. Baik dosen, karyawan maupun mahasiswa dan warga Persyarikatan Muhammadiyah di Riau.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan UMRI ini. Ia menilai, forum seperti ini sangat penting untuk mendorong adanya kekuatan strategis di kalangan akademisi.

Dijelaskannya, bahwa penentu sejarah adalah kekuatan-kekuatan strategis. Baik pada level institusi, organisasi, negara maupun sekelompok orang yang punya peran strategis.

"Kaum akademisi sebenarnya termasuk dalam kekuatan elit strategis yang bisa menentukan hitam putihnya suatu bangsa, negara bahkan peradaban dunia. Kaum cendikiawan juga selalu dibicarakan perannya dalam sebuah negara. Termasuk dalam relasi kekuasaan," ungkapnya.

Rektor UMRI, Dr Saidul Amin, MA berterimakasih pada semua undangan yang hadir. Saidul mengatakan, acara ini setidaknya mengandung 4 hal kegunaan. Pertama silaturahmi atau menyambung tali kasih sayang. Kemudian, silatul qolbi atau menyambung hati, silatul fikri atau proses bertukar fikiran dan silatul amal.

Rektor berharap, lewat kegiatan itu dapat diserap gagasan-gagasan. Termasuk pengalaman yang dialami akademisi perguruan tinggi lain di ASEAN. Terutama, di negara-negara yang penduduk muslimnya tergolong minoritas seperti, Kamboja, Thailand dan Filipina.

"Forum ini juga mengikat kesadaran agar UMRI bisa duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan universitas lain di dunia. Sengaja diminta Prof Gunawan hadir karena UMY termasuk perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia," tutur Saidul.

Dalam kegiatan itu, seluruh narasumber yang hadir dipersilakan menyampaikan informasi terkait pengalaman akademisi Muslim di negara masing-masing.

Prof Gunawan memaparkan internasionalisasi Muhammadiyah di regional ASEAN. Dimana, Muhammadiyah sudah beraktivitas di Malaysia, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam, Kamboja, Vietnam.

Muhammadiyah juga memberi perhatian pada kondisi masyarakat Muslim di sejumlah negara ASEAN. Seperti etnis Rohingya di Myanmar, hingga masyarakat Islam Moro di Filipina dan Pattani di Thailand.

Sementara, Mohd Iqbal Bin Abdul Wahab menyampaikan bahwa di Malaysia, ulama Indonesia yang paling dikenal adalah Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Tulisan-tulisan Hamka, tuturnya, banyak dibaca oleh orang di Malaysia. Termasuk dirinya sejak muda.

Iqbal yang lama tinggal di Inggris menilai kekuatan Islam di Nusantara sangat besar. Apalagi jika melihat komunitas Muslim yang ada di negara-negara barat. Biasanya, Muslim di ASEAN, khususnya Malaysia dan Indonesia tetap memenuhi kewajiban sebagai orang Islam meski berada di negara orang.

Dia bercerita bagaimana saat bulan puasa di Inggris, orang Indonesia dan Malaysia biasanya tetap memenuhi kewajiban itu. Bahkan, rela menempuh tempat yang jauh atau tidak makan jika kesulitan mendapat makanan yang halal.

Sementara, sikap berbeda ditunjukkan kaum muslimin dari negara Islam lainnya seperti Pakistan, Iran, Irak dan sebagainya.

Hal lainnya, ketika bertemu, Muslim Malaysia dan Indonesia dan negara ASEAN lainnya biasanya mencetuskan majelis taklim dan sebagainya. Tapi banyak orang-orang Muslim di ASEAN yang tak sadar kekuatannya. Inilah yang perlu digali kembali.

Sementara Dr Saifuddin Amin menyampaikan, Muhammadiyah di Singapura tak lepas dari Indonesia. Khususnya Riau. Karena Muhammadiyah di Singapura dibentuk oleh ulama asal Siak. Pada 25 Mei 1957, tuturnya, resmi berdiri Persatuan Muhammadiyah (PM) di Singapura.

Dalam perjalanan waktu yang cukup lama, pergerakan PM Singapura sama dengan di Indonesia. Yaitu bagaimana mengembangkan aset-aset di Singapura. PM juga bergerak di bidang dakwah, sosial dan pendidikan. Di pendidikan PM memiliki TK hingga perguruan tinggi.

Saifuddin juga menjelaskan kondisi masyarakat Islam di Singapura. Dia menyimpulkan, minoritas Muslim Singapura adalah minoritas yang paling bahagia. Bukan tanpa alasan. Ia menyebut di Singapura walaupun merupakan negara sekuler, tetap ada madrasah untuk tempat belajar anak-anak Islam.

Singapura juga punya Mahkamah Syariah. Ada UU yang mengatur umat Islam. Kemudian ada Kantor Urusan Agama yang mengatur pernikahan umat Muslim. "Lebih menarik lagi, di Singapura ada satu menteri yang khusus mengurusi umat Islam. Ini luar biasa," paparnya. Singapura juga punya mufti yang fatwanya bagai UU yang wajib dituruti semua Muslim Singapura.

Muslim Singapura juga sangat toleran. Memang, kata dia, suara azan di Singapura tidak sampai keluar kecuali di Masjid Sultan. Namun, tidak hanya Islam yang diperlakukan begitu. Ibadah agama lain juga diatur hal yang sama. Saifuddin juga mengaku lebih aman menggunakan jubah di tempat umum Singapura dibanding di Indonesia.

Sementara, Ahmad Omar Chapakia menyampaikan berkah Riau yang bisa mengubah Nusantara. Pertama, berkah hadirnya Parameswara, anak dari Raja Sriwijaya yang kemudian mendirikan kerajaan dan menganut agama Islam.

Parameswara, tuturnya, memperluas kekuasaannya hingga masuk ke Temasek dan Malaka. Dari Semenanjung Malaka, kerajaan ini memperluas pengaruhnya hingga ke negara lain di Asia Tenggara.

Berkah kedua adalah yaitu Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam Dua Belas berasal dari kerajaan Melayu di Kepulauan Riau. Raja Ali Haji berperan mengembangkan bahasa Melayu sehingga menjadi bahasa Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki bahasa dan dialek yang banyak sekali.

Berkah ketiga yaitu pertemuan yang digagas oleh Rektor UMRI ini. Menurutnya, acara ini adalah usaha yang baik dalam menghimpun perguruan tinggi Islam yang ada di lima negara ASEAN.

Sementara Dr Hasna dari Filipina menyorot peran Muhammadiyah yang sangat besar di Indonesia. Termasuk negara lain di regional ASEAN.

Dia juga menceritakan tentang kondisi Bangsa Moro di Filipina yang masyarakatnya tak jauh berbeda dengan Indonesia. Daerah Moro, katanya, menjadi daerah otonom yang didominasi oleh penganut Islam.

Di Filipina, khususnya di Cotabato sangat mudah mencari makanan halal. Berbeda dengan di Manila yang masih sulit mencari makanan halal. Namun, saat ini pemerintah Filipina tengah berupaya mengembangkan makanan kuliner halal dan perbankan Islam.

Dr Hasna juga menceritakan bahwa tahun lalu, UMRI dan Cotabato State University telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang ia apresiasi.

Sementara, Hosen Mohamad Farid dalam pemaparannya menceritakan sejarah masyarat Islam di Kamboja berlatarbelakang Melayu Champa di Vietnam. Karena peperangan, kedudukannya berpindah hingga ke wilayah Kamboja saat ini.

Menurut dia, umat Islam Kamboja mengalami dua pengalaman pahit. Pertama saat perang Champa dan kedua ketika masa Polpot berkuasa. Akibat dua peristiwa itu, banyak Muslim Champa yang mati.

Tapi kini, umat Muslim di Kamboja ikut berperan untuk negara. Kamboja juga mengakui adanya Mufti yang mengurusi umat Islam di sana. ***