"Untuk saat ini saja usaha waralaba di Kota Pekanbaru semakin menjamur, bagaimana nantinya, mungkin lebih ramai lagi. Mereka mulai menguasai pasar dengan sistem monopoli," ujarnya kepada media ini, Ahad 10 Januari 2016.
Darnil juga khawatir dengan munculnya ritel-ritel berstandar raksasa ini hadir tanpa ada filter masuk ke kota Pekanbaru. Artinya, setiap investor ini mengajukan izin, diterima tanpa ada regulasi.
"Hal ini kita kawatirkan karena akan berdampak terhadap pedagang tempatan, dengan persaingan yang kita yakini akan tidak seimbang nantinya," tuturnya
Menurut Politisi dari Partai Hanura ini, dengan posisi Kota Pekanbaru sebagai pintu masuk dari negara-negara tetangga, membuat daerah ini diserbu pengusaha waralaba seperti Alfamart, Indomaret, McDonald's dan lainnya.
"Pemko harus paham, usaha waralaba ini akan berdampak terhadap pedagang kecil. Lebih lagi sangat belum siap bagi pedagang tempatan untuk menyaingi ritel raksasa ini," tutur Darnil.
Untuk itu, agar kota Pekanbaru kedepan bisa lebih baik, ia mengingatkan agar Pemko Pekanbaru tidak terlalu membuka diri terhadap izin untuk pengusaha besar yang masuk ke Pekanbaru.
"Maka sebelum waralaba ini mendirikan usaha, sangat perlu bagi pemerintah untuk melakukan kajian. Pikirkan jugalah masyarakat kecil, mereka mau kerja apa kalau jualan mereka nantinya tidak laku lagi," cetusnya.**(dwi)






