Gaungriau.com (PEKANBARU) -- Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau hingga kini masih terus terjadi. Semua pihak termasuk perusahaan diminta waspada agar kebakaran tidak terjadi di areal perusahaan. Jika pun terjadi, penanganannya harus cepat.

Terkait penanganan kebakaran Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pekanbaru melakukan training pengendalian kebakaran Karhutla dan kebun bagi pemegang Izin Usaha Perkebunan (IUP).

Kepala Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pekanbaru, Kamaruddin menjelaskan mengumpulkan perusahaan sawit di Riau bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serta pengetahuan tim pemadam kebakaran di unit kebun baik teknik pemadaman maupun pencegahan, sehingga dapat mengantisipasi kejadian kebakaran di HGU (hak guna usaha_ maupun lahan masyarakat yang berdekatan dengan perusahaan.

"Kegiatan pelatihan ini sebagai bentuk kewajiban perusahaan dalam mempersiapkan sumber daya manusia untuk melakukan pengendalian kebakaran hutan, lahan dan kebun. Ada 3 hal yang penting dalam pelatihan, yaitu peningkatan kemampuan, keterampilan, sikap dan prilaku," ujarnya Selasa 7 Mei 2019.

Welly Pardede, salah mewakili perusahaan perkebunan sawit Asian Agri mengatakan dengan adanya pelatihan pengetahuan penanganan kebakaran hutan akan semakin meningkatkan kemampuan petugas dari perusahaan di lapangan.

"Ini menjadi bekal untuk menjalankan kegiatan pencegahan ataupun pemadaman di unit masing-masing perusahaan, sehingga tidak ada kasus kebakaran di lokasi kebun atapun yang berbatasan dengan HGU," ucapnya.

Ir Welly Pardede mewakili perusahaan Asian Agri mengungkapkan, pengetahuan dan kemampuan yang telah diperoleh dari BDLHK dari para pengajar menjadi bekal untuk menjalankan kegiatan pencegahan ataupun pemadaman di unit masing-masing perusahaan, sehingga tidak ada kasus kebakaran di lokasi kebun atapun yang berbatasan dengan HGU.

Sementara itu juru bicara Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Pekanbaru Rafmen mengatakan bencana asap merupakan gangguan dan ancaman terbesar di Indonesia. "Kami dari GAPKI sangat mengapresiasi perusahaan perkebunan yang berperan aktif dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam hal mengantisipasi dan mencegah bencana asap ini," katanya.

Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis hari ini ada 13 titik panas (hot spot) di Riau. Titik panas tersebut tersebar di delapan kabupaten dan kota.

"Hot spot terbanyak berada di Kabupaten Pelalawan dengan jumlah 5 titik," ucap Kepala BMKG Pekanbaru, Sukisno.**(nat)