PEKANBARU -- Praktisi pendidikan Riau Jakiman menilai ditengah kondisi kabut asap yang terjadi saat ini, anak-anak didik lebih baik bersekolah.

Hal itu dikemukakan Jakiman dalam Diskusi Publik Tersebab Asap yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau, Kamis 1 Oktober 2015, di gedung Graha Pena.

Jakiman cenderung ke arah anak-anak peserta didik untuk terus bersekolah ini dikarenakan ketika diliburkan, anak-anak lebih banyak yang bermain diluar, sementara pelajaran disekolah juga tertinggal.

Jika tetap sekolah, menurut mantan Ketua PGRI Kota Pekanbaru ini, ketika disekolah, anak didik akan terikat dengan aturan yang dibuat oleh pihak sekolah, dan akan lebih patuh, dari aturan yang dibuat dirumah oleh orang tua.

"Sekolah ada suasana kepatuhan lebih besar dari anak-anak dari aturan yang dibuat pihak sekolah, yang akan lebih diikuti anak, ketimbang aturan dirumah oleh orang tua," tegas Jakiman.

Dia mengatakan, untuk menjaga kesehatan anak-anak didik, disinilah perlunya peran pemerintah yakni dalam memberikan bantuan berupa masker yang pantas dan layak digunakan anak-anak.

"Kenapa untuk memberikan bantuan bagi daerah lain yang tertimpa musibah pemerintaj kita bisa mengeluarkan dana yang cukup besar sebagai bantuan, sementara saat ini musibah itu terjadi di Provinsi Riau sendiri, kenapa pemerintah tidak mau memberikan masker," pungkasnya.

Pihak sekolah menurut Jakiman juga membuat kebijakan dengan tidak mengadakan kegiatan belajar mengajar di luar rungan, dan anak-anak harus memakai masker setiap saat.

"Pemerintah melalui Puskesmas keliling juga diharapkan bisa melakukan pemantauan setiap saat ke sekolah-sekolah, sehingga bisa terus menjaga anak-anak kita," ungkapnya.

Hal yang sama juga dikemukakan Ketua PGRI Kota Pekanbaru Delfi Warman, menurutnya dengan melihat prediksi dari BMKG, kabut asap ini akan terus akan terjadi di Provinsi Riau dengan melihat arah angin yang menuju ke arah selatan hingga November mendatang.

"Kalau anak-anak kita terus diliburkan, yang paling dirugikan itu adalah anak-anak, karena berapa banyak mata pelajaran yang tertinggal, sementara ketika diliburkan, mereka diberi tugas, toh itu juga tidak dikerjakan anak-anak, karena lebih banyak mereka yang tetap bermain diluar," tegasnya.

Delfi juga menyebut, jika anak-anak ini disekolahkan, sekolah bisa melakukan modifikasi ruangan dengan menutup pentilitasi menggunakan plastik, dan menghidupkan kipas angin modifikasi dengan air.

"Hal itu sangat efektif, karena bisa menghilangkan asap, numun ini semua tergantung kepada saran dari pihak-pihak lainnya, yang jelas bagaimana agar anak-anak kita tetap bisa memperoleh pelajaran dan mereka bisa tetap sehat," ujarnya.**(mad)