SELATPANJANG -– Bahan baku kayu berbagai jenis kini keberadaannya sulit (langka,red) di peroleh oleh warga di Meranti. Di lain sisi permintaan kayu untuk kebutuhan rumah dan perabot terus meningkat.

"Kondisi kelangkaan kayu ini jika berlangsung secara terus menerus akan berimplikasi kepada pembangunan daerah. Bagaimana masyarakat akan membangun rumah apalagi saat ini untuk membuat peti (tempat jenazah,red) saja warga kesulitan menacri kayu kalau ada harganya sangat tinggi” kata Noris warga Selatpanjang.

Menurutnya, Pemerintah harus turun tangan untuk mencarikan solusi kelanggkaan kayu ini, “dimana saat ini kita ketahui semua kayu yang masuk ke Selatpanjang tidak memiliki dokumen kayu, di satu sisi penegakan hukum oleh aparat terkait seperti kepolisian sudah benar namun mengingat kebutuhan kayu ditengah masyarakat ini tidak dapat di tunda tunda maka perlu ada dispensasi yang di usahakan Pemkab Meranti, harus ada solusi untuk mengatasi kebutuhan kayu saat ini, seperti koordinasi dengan pihak kepolisian dan kemenhut RI” ungkapnya.

"Selama ini warga yang menebang kayu di hutan di tangkap sementara perusahaan yang mengantongi izin dengan secara membabi buta menggundulkan hutan tidak mendapat pengawasan dan seenaknya menjual kayu keluar dari Meranti bahkan kayu itu di Ekspor sampai ke Luar negeri, ini sungguh tidak adil” sambungnya.

Jika situasi ini terus berlangsung katanya akan menimbulkan dampak yang tidak baik, dimana akan berpengaruh kepada pembangunan daerah, selain itu usaha perabot yang notabenennya bergantung kepada bahan baku kayu akan terancam tutup dan pekerja perabot menjadi kerhilangan pekerjaan, tentu akan menambah jumlah pengangguran di daerah Meranti.**(don)