DUMAI -– Dinas terkait diminta tanggap dalam menyikapi banyak dijumpainya di Kota Dumai penggunaan Tisu toilet yang dijadikan lap tangan dan mulut sesudah makan di warung makan, kedai kopi maupun ditempat lainnya. 

“Dinas Kesehatan (Dinkes) Dumai diminta tanggap dan dapat memberikan pembinaan kepada pengusaha untuk tidak menggunakan tisu toilet ditempat usahanya sebagai bahan lap tangan dan mulut sesudah makan," kata Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Kota Dumai, Ahmad Jony Marzainur, akhir pekan lalu.
 
Kata Jhony, memang peraturan dan hukumannya tidak ada. Namun upaya yang bisa di lakukan sekarang adalah, kiranya masyarakat harus menyadari dengan cara tidak berbelanja makanan di tempat yang bisa menghargai konsumen.
 
Artinya berbelanjalah di tempat yang menghargai konsumen yang tidak menyediakan tisu toilet. "Alangkah rendahnya kita sesudah makan disajikan lap tangan dengan tisu toliet. Kedepankanlah etika dalam berdagang. Masa orang berbelanja kita berikan tisu yang seharusnya untuk WC dan kalau diluar negeri atau di hotel-hotel untuk BAB,”ujarnya.
 
Memang belum ada dinas yang bisa untuk mengawasi hal ini, paling tidak dinas kesehatan lah, atau lembaga lembaga yang perduli terhadap hal ini. Selain itu, PHRI juga mungkin bisa melakukan koordinasi, untuk menjadikan hal ini persoalan bersama dalam menjaga etika berjualan.
 
Sebagaimana diberitakan belakangan ini kerap ditemukan tisu gulung digunakan oleh warung-warung dan rumah makan untuk mengelap tangan dan mulut sesudah makan. Padahal tisu itu diperuntukkan untuk di toilet atau di Luar Negeri digunakan membersihkan kotoran.
 
“Kita minta pengusaha rumah makan. Warung-warung dan kedai tenda biru yang menjajakan makanan kering maupun basah untuk menjaga etika kepada konsumen. Pergunakankah tisu makan untuk mengelap tangan dan mulut bukan tisu gulung yang diperuntukkan di toilet. Saya sering melihat bahkan disuguhkan tisu toilet tersebut ketika di warung makan maupun kedai kopi,”sebutnya.