• Effendi Simbolon

JAKARTA —- Politisi senior PDI Perjuangan Effendi Simbolon berpendapat mencuatnya kasus PT Freeport Indonesia tak terlepas dari nama Ketua DPR Setya Novanto. Padahal yang menjadi sasaran tembak sesungguhnya adalah pengusaha minyak M. Riza Chalid. Nama Setya Novanto hanya menjadi titik lontar, agar beritanya lebih menarik dan mendapat respon media yang besar.

“Jadi, orang seperti Setya Novanto inilah yang dijadikan titik lontar oleh Rini Soemarno. Maka Presiden Jokowi harus bisa mengelola kasus ini, kalau tidak bisa senjata makan tuan,” ujar Effendi Simbolon pada diskusi “Membaca arah reshuffle kabinet jilid II” bersama anggota Fraksi PKB DPR RI, Daniel Djohan, Jubir Panziazimat Institute (PI), Lalu Hilman dan Ketua ProDem, Bob Randilawe, Kamis 19 Nopember 2015.

Menurutnya Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said tidak bisa semanya saja ke DPR untuk mengadukan atau melaporkan sesame lembaga tinggi negara mengingat tak mekanisme yang mengaturnya.  Bahkan lebih ironis lagi, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menerima laporan Menteri ESDM dan menjadikannya sebagai panggung untuk media.  Padahal tak bisa menteri Sudirman Said ujug-ujug melaporkan anggota DPR RI.

“Kalau ini dibiarkan, maka akan sangat mengerikan, sehingga DPR RI harus melawan. Presiden Joko Widodo harus bisa mengelola kasus ini agar tidak menjadi bumerang atau senjata makan tuan, “ kata legislator tiga periode itu.

Effendi Simbolon menyarankan agar Presiden Jokowi tidak membiarkan ‘benalu-benalu’ itu menggerogoti pemerintahannya, sehingga ‘benalu-benalu’ itu harus dipangkas. Sebab, kalau tidak, Presiden Jokowi sendiri yang akan ‘mati’. “Seperti pohon kalau banyak benalunya pasti akan mati,” kata Effendi Simbolon.